Enjoy Reading

Minggu, 24 Oktober 2010

Oleh Dedi Muhtadi dan Adhitya Ramadhan

Kompas/Adhitya Ramadhan Peronggeng amen dari Grup Ronggeng Girimukti, Padaherang, Ciamis, Jawa Barat menari bersama penonton di halan balai Desa Sindangasih, Banjarsari, Ciamis, Jumat, (12/2). Di bawah naungan awan-gemawan musim kemarau di Kampung Kalenanyar, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, tujuh penari itu menggoyang tubuh mereka di atas tanah becek yang ditaburi kapur. Para ronggeng menari tanpa alas kaki.

Udara pukul 10 pagi gerah saat suara gamelan dan tarian ronggeng mulai hadir utuh di halaman rumah Nasum (50), keluarga yang berhajat. Orang-orang berangsur berkumpul di rumah petani penyadap kelapa dari Desa Rawaapu Kecamatan Patimuan, Cilacap, itu yang tengah melaksanakan nadar khitan untuk anak lelakinya, Faisal (9).


"Walapun kaki berlepotan tanah, kami harus terus menari untuk menghormati tamu yang datang," ujar Tati Deviati (30), penari sekaligus peronggeng primadona dari Kelompok Seni Ibing Baranangsiang asal Desa Karangsari, Kecamatan Padaherang, Ciamis, Jawa Barat.


Baranangsiang pada hari itu dapat job lintas provinsi, mereka ditanggap main di wilayah Cilacap bagian selatan di Jawa Tengah. Pertunjukan ronggeng desa dengan irama musiknya yang mengayun dan meletup-letup itu tetaplah sebuah magnet yang menarik perhatian para pria penggemar seni ngibing.

Kompas/Adhitya Ramadhan
Ronggeng amen dari Grup Ronggeng Girimukti, Padaherang, Ciamis, Jawa Barat berdandan sebelum pentas di balai Desa Sindangasih, Banjarsari, Ciamis, Jumat, (12/2).


Suatu malam-pertengahan Februari lalu-hujan deras juga tidak menghentikan antusiasme warga melihat pentas ronggeng di halaman Balai Desa Sindangasih, Kecamatan Banjarsari, Ciamis selatan.


Satu per satu penggemar berat ronggeng datang ke lokasi pementasan setelah para peronggeng dan penabuh gamelan atau biasa disebut nayaga mulai memainkan gamelan sejak pukul 20.00.


Menurut Kepala Desa Sindangasih Ahmar, ibarat artis, ronggeng memiliki penggemar beratnya sendiri-sendiri. Mereka akan mengikuti ke mana pun ronggeng favoritnya tampil.

Ronggeng amen adalah seni tradisional yang berkembang di selatan Kabupaten Ciamis. Kesenian ini banyak ditemui di Kecamatan Banjarsari, Padaherang, Kalipucang, Pangandaran, Parigi, Cijulang, hingga ke perbatasan Cilacap, Jawa Tengah, yang mayoritas bekerja sebagai petani dan bisa dua bahasa sekaligus, yakni Sunda dan Jawa ngapak. Kini sedikitnya ada 50 grup ronggeng amen di Ciamis selatan.


Seni ronggeng amen atau ronggeng kidul lahir di tengah-tengah kultur petani. Ciamis selatan adalah komunitas yang dominan dengan budaya bercocok tanam.

Dari Ciamis selatan hingga perbatasan Jawa Tengah, tempat ronggeng amen muncul dan berkembang selama ini, kawasan itu merupakan sentra produksi beras.

Setiap tahun daerah itu menjadi andalan Bulog dalam pengadaan beras. Area sawah di wilayah itu seluas 51.000 hektar dan pada tahun 2008 menghasilkan padi 601.000 ton. Angka tersebut meningkat dibandingkandengan produksi tahun 2007 sebanyak 585.000 ton.




Dahulu kala ronggeng kerap dimainkan sebagai bagian dari "ritual" syukuran masyarakat agraris atas berhasilnya panen raya padi dan selusin rangkaian upacara lain.

Bahkan, menurut penyair Sunda, Godi Suwarna, dulu ronggeng dimainkan pada siang hari di tengah sawah, untuk menemani para petani yang sedang memanen padi.


Pemimpin Kelompok Ronggeng Baranangsiang, R Devi Setia Wiguna (40), yang juga suami dari Tati Deviati, sang ronggeng, adalah seorang petani sekaligus pedagang turun-temurun. Sawah seluas 100 bata (1 bata setara dengan 14 meter persegi) warisan orangtuanya di Padaherang ia garap sendiri.

Para nayaga yang menjadi anggota kelompok seni ini pun mayoritas bekerja sebagai petani dan buruh tani.

Ketika cuaca sulit diprediksi, hama menyerang, dan lahan sawah tidak bisa diandalkan untuk hidup, mereka pun kian mengandalkan panggilan pentas ronggeng untuk menghidupi keluarga.

Saat ini sudah jarang ronggeng dipentaskan untuk merayakan suksesnya panen. Pesta pernikahan atau khitanan pun kemudian biasa memanggil ronggeng untuk hiburannya.

Akan tetapi, tidak semua orang bisa memanggil grup ronggeng amen. Tarif sekali pentas sehari semalam sekitar Rp 3,5 juta, bukanlah angka yang kecil bagi petani. Hanya warga kelas sosial ekonomi mapan yang mampu menghadirkan ronggeng dengan tarif sebesar itu.

Jika seorang petani biasa, atau penyadap nira kelapa, ingin memanggil grup ronggeng, mereka harus menyiapkan uang sesuai tarif yang dipatok sejak jauh hari. Tatkala ronggeng dipentaskan, status sosial keluarga hajat pun mulai terangkat.


Ronggeng amen merupakan turunan dari ronggeng gunung, seni tradisional buhun (kuno) dari pegunungan di selatan Ciamis, yang terkenal dengan seni ketuk tilunya. Namun, ronggeng gunung yang hanya diiringi kendang dan gong ini masa kejayaannya mulai pudar tergerus orkes dangdut dan organ tunggal. Tetapi kita berharap kesenian ini tetap mampu bertahan, meskipun berat.


NAMA : MOCHAMAD ZACKY MERDI

KELAS : 1KA31

NPM : 19110510


DOSEN : Asri Wulan

MATA KULIAH : Ilmu Sosial Dasar
MADINAH - Tercatat sudah ada lebih dari 10 pasien kejiwaan yang dirawat di Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPHI) Madinah. Rata-rata pasien yang mengalami gangguan kejiwaan itu sudah berusia uzur.

Jumlah ini cukup mengejutkan mengingat pelaksanaan haji baru memasuki tahap awal namun jumlah pasien sudah melonjak tinggi.



"Kalau dilihat baru awal kok sudah banyak begini," ujar Dokter Spesialis Kejiwaan BPHI dr Dahsriyati saat ditemui wartawan di kantornya, Madinah, Kamis (21/10/2010).

Pasien gangguan jiwa yang dirawat di Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPHI) sebenarnya tidak membutuhkan perawatan di atas tempat tidur. Sebab, pasien gangguan jiwa tidak mengalami sakit secara fisik.

"Jadi pasien yang mengalami gangguan kejiwaan inginnya jalan-jalan. Butuh ruangan khusus untuk merawat pasien tersebut," kata dokter spesialis kejiwaan di RS Omni ini.

Kendati demikian, Dahsriyati menyambut gembira sudah selesainya ruangan khusus bagi pasien yang mengalami gangguan kejiwaan. Sebab, ruangan tersebut akan membuat pasien kejiwaan menjadi tidak terganggu dan juga tidak mengganggu pasien lainnya. "Ada dua, satu buat pria dan satu buat wanita," ujar Dahsriyati.

Ruangan khusus bagi pasien kejiwaan ini juga meminimalisir pasien kabur dari tempat perawatan. Karena jumlah petugas yang mengawasi pasien kejiwaan tidak sebanding. Dahsriyati juga mengaku keterbatasan jumlah orang tersebut terbantu dengan adanya ruangan khusus bagi pasien kejiwaan.

NAMA : MOCHAMAD ZACKY MERDI

KELAS : 1KA31


NPM  : 19110510

LAKSANA AGUNG SAPUTRA
Tak ada yang salah dengan judul di atas. Tak salah juga jika pikiran Anda langsung terhubung dengan tagline Bung Karno yang sudah telanjur populer itu, ”Ganyang Malaysia”.
Apalagi seruan ”Ganyang Malaysia” masih menyisakan gemanya setelah keriuhan yang terjadi di publik Indonesia setelah insiden di Tanjung Berakit, Kepulauan Riau (Kepri), 13 Agustus lalu. Dan, kita semua tahu, tensi hubungan Indonesia-Malaysia saat itu sempat hangat-hangat tahi ayam.
Toh, ”Ganyang Malaysia” agaknya memang berhenti pada tagline belaka. Tak lebih dari itu. Namun, percayakah Anda bahwa pada kenyataannya, pengganyangan justru terjadi terhadap bangsa Indonesia?
Pengganyangan itu berlangsung tanpa tagline dan dilakukan selama ini dalam operasi sunyi senyap. Wajar kemudian jika kita semua tak merasa sedang diganyang.
Penyelundupan barang! Inilah pengganyangan terhadap Indonesia, inilah pengganyangan yang sesungguhnya.
Setiap tahun, barang selundupan menyerbu Indonesia lewat Kepri, provinsi yang berbatasan langsung dengan wilayah perairan Malaysia, Singapura, Vietnam, dan Kamboja. Sebagian dilakukan dengan cara bergerilya, sebagian lagi terang-terangan. Ada yang diperdagangkan di Kepri, ada juga yang menjalar ke luar Kepri, termasuk sampai ke Pulau Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Sumatera, dan Lombok.
Jenis barangnya beragam, mulai dari perabot rumah tangga, barang elektronik, peralatan kantor, mainan anak, peralatan kebugaran, berbagai jenis barang konsumsi, sampai beragam barang bekas. Dan, jangan salah, narkoba menjadi salah satu primadona di antara barang selundupan tersebut.
Dalam hal ini, ada beberapa jenis barang selundupan yang nilai strategisnya perlu lebih dicermati. Barang itu adalah beras, makanan olahan, pakaian bekas, dan narkoba. Mengacu kebijakan umum Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan, beras dan makanan olahan termasuk barang impor yang tata niaganya diatur. Di sisi lain, produk narkoba dan pakaian bekas jelas terlarang untuk diimpor.
Via Malaysia
Pada awal Agustus lalu, Badan Karantina Kementerian Pertanian mengungkap adanya penyelundupan 1.400 ton beras asal Vietnam ke Kepri. Di Batam, sebagian beras yang telah dikemas ulang itu beredar dengan merek AAA dan 555. Harganya sekitar Rp 6.000 per kilogram (kg) atau lebih murah dibandingkan dengan beras dari Pulau Jawa dengan kualitas sama yang saat itu harganya Rp 6.600 per kg.
Menurut Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Batam Ahmad Hijazi, tidak tertutup kemungkinan beras selundupan itu juga didistribusikan ke luar Batam, bisa ke mana saja selama ada disparitas harga.
Dan, memang secara empiris, penyelundupan marak terjadi antarwilayah atau negara yang mengalami disparitas harga atas produk yang relatif sama. Konsumen tidak peduli dari mana asal barang, yang penting harga dan kualitas terjamin.
Lepas dari itu, beberapa hari sebelumnya di Batam, Direktur Jenderal Bea dan Cukai Thomas Sugijata mengungkapkan penemuan penyelundupan pakaian bekas ke Indonesia. Pakaian tersebut buatan Korea, Hongkong, China, Jepang, dan Malaysia.
Jalur penyelundupannya mayoritas lewat Malaysia yang memang tidak mempersoalkan semua itu selagi tidak diperjual-belikan di negara tersebut.
Selama dua tahun terakhir, tren penyelundupan pakaian bekas meningkat dengan target pemasaran ke kota-kota besar, seperti Batam, Makassar, Surabaya, Banyuwangi, dan Cirebon. Pada 2009, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) mengungkap 18 kasus usaha penyelundupan. Barang bukti setiap kasus rata-rata 1.500 karung sampai 2.000 karung atau sebanyak 450.000 potong sampai 600.000 potong.
Sementara pada 2010, sampai dengan awal Agustus saja, total barang bukti yang disita DJBC sekitar 15.000 karung atau 4,5 juta potong. Itu artinya, usaha menyelundupkan pakaian bekas ke Indonesia tahun ini naik hampir sepuluh kali lipat dalam segi kuantitas dibandingkan dengan 2009.
Baru-baru ini, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Batam mengeluarkan data yang menunjukkan masifnya penyelundupan makanan olahan kemasan, obat-obatan, dan kosmetik. Tahun ini sampai dengan Juli, minimal 1.373 item produk ilegal beredar di pasar. Tahun lalu, sedikitnya 4.024 item produk ilegal beredar di pasar. Peredarannya disinyalir juga sampai ke luar Kepri.
Produk itu berasal dari Malaysia, Singapura, Thailand, China, dan Vietnam. Digolongkan ilegal atau selundupan karena tidak terdaftar di BPOM. Dalam beberapa operasi, ditemukan modus pemalsuan izin edar.
”Badan POM ini seperti pemadam kebakaran saja akhirnya, semprot sana, semprot sini. Selagi hulunya tidak disumbat, hal ini akan terus berlanjut,” kata Kepala BPOM di Batam I Gde Nyoman Suandi.
Kurir narkoba
Upaya penyelundupan narkoba tak kalah marak. Setidaknya ada 11 kali usaha penyelundupan ke Batam yang digagalkan Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai Tipe B Batam mulai Januari sampai Agustus. Dari kejadian ini bisa dibaca, telah terjadi usaha penyelundupan narkoba minimal sebulan sekali. Ini belum termasuk data dari kepolisian.
Setiap kurir biasanya membawa narkoba dengan nilai mencapai miliaran rupiah. Kurir ini sebagian besar datang dari Malaysia dan selebihnya dari Singapura. Di samping diedarkan di Batam, narkoba juga didistribusikan ke kota-kota besar di Indonesia, seperti Jakarta dan Medan.
Kepala Badan Narkotika Nasional Gories Mere dalam jumpa pers di Kota Batam, Selasa (21/9), menyatakan, ekstasi dan sabu menjadi jenis narkoba yang tren diselundupkan ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Barang tersebut sebagian besar diproduksi di China, Hongkong, India, dan Iran.
Indonesia, menurut Gories, menjadi pasar yang menggiurkan karena margin yang sangat besar. Harga sabu di Iran pada awal tahun ini senilai Rp 100 juta per kilogram (kg). Terakhir, harganya turun menjadi Rp 50 juta per kg. Sementara di Indonesia, harganya mencapai Rp 2 miliar per kg.
Melihat kondisi geografis Kepri yang berupa kepulauan, demikian pula Indonesia secara keseluruhan, jalur penyelundupan bisa di mana saja. Sementara pintu yang relatif terawasi ketat hanya di pelabuhan resmi dan bandar udara saja.
Pelabuhan tikus
Semisal di Batam, terdapat lima pintu masuk kepabeanan, meliputi empat pelabuhan resmi dan satu bandar udara. Sementara pelabuhan tikusnya dikabarkan lebih dari 20 lokasi. Bongkar muat pun bisa dilakukan di tengah laut sehingga tak mudah dideteksi petugas.
Artinya, data penyelundupan yang berhasil digagalkan di atas tidak serta-merta menunjukkan penyelundupan menjadi gembos. Data tersebut justru bisa dibaca sebaliknya; serbuan barang selundupan masih merajalela. Bahkan, terbuka kemungkinan, barang selundupan yang lolos dan beredar di Indonesia lebih banyak daripada yang digagalkan.
Namun, kunci pintu masuk sebenarnya berada di tangan aparat. Sebagaimana diungkapkan Komandan Kapal Patroli Bea dan Cukai 10002 Suhaimi (52), penyelundupan marak dan sulit dibasmi justru karena ada aparat yang ikut bermain. Dalam bahasa premannya, aparat jadi backing.
Selama 30 tahun berpatroli, Suhaimi acap kali memergoki penyelundupan dengan pengawalan aparat bersenjata. Kalaupun tidak dengan pengawalan, minimal penyelundupan membawa ”restu” dari aparat.
”Kalau semua aparat kompak dan jujur, sebenarnya penyelundupan bisa dicegah, minimal yang besar-besar,” kata Suhaimi.
Penyelundupan bukan semata persoalan kerugian negara dari sisi pendapatan bea dan cukai. Penyelundupan adalah gelombang pengganyangan terhadap rakyat Indonesia, pelan tetapi pasti.
Kalau beras selundupan terus menyusupi Indonesia, apa jadinya dengan nasib petani dan keluarganya. Kalau pakaian bekas selundupan tak henti merambah kota-kota Indonesia, apa jadinya dengan industri garmen nasional berikut jutaan buruhnya.
Generasi dalam bahaya
Kalau makanan, obat-obatan, dan kosmetik selundupan menjalar ke mana-mana, bagaimana dengan jaminan kesehatan masyarakat Indonesia. Dan, kalau narkoba terus merdeka bergerilya, bagaimana dengan masa depan generasi muda bangsa Indonesia.
Sesederhana itu, penyelundupan menggempur dan melumpuhkan Indonesia. Tanpa keriuhan dan tagline, Ganyang Indonesia!



NAMA : MOCHAMAD ZACKY MERDI
KELAS : 1KA31

NPM : 19110510

DOSEN : Asri Wulan

MATA KULIAH : Ilmu Sosial Dasar
Revolusi Transportasi untuk Rakyat

Meski tidak ada korban jiwa, anjloknya rangkaian Kereta Api Harina, Kamis (21/10) dini hari di Desa Mekargalih, Jatiluhur, Jawa Barat, tetap memilukan. Ya, memilukan!
Masih segar dalam ingatan khalayak ketika 36 penumpang KA Senja Utama jurusan Jakarta-Semarang tewas akibat kereta yang mereka tumpangi ditabrak oleh KA Argo Bromo Anggrek jurusan Jakarta-Surabaya pada 2 Oktober di Stasiun Petarukan, Pemalang, Jawa Tengah. Kejadian itu hanya berselang beberapa menit setelah KA Bima menyerempet rangkaian KA Gaya Baru Malam di Stasiun Purwosari, Solo, Jawa Tengah. Seorang penumpang KA Gaya Baru Malam tewas dalam kejadian itu.
Ketika banyak negara yang juga memiliki riwayat panjang perkeretaapian, seperti Perancis, Jerman, dan Jepang, terus berkembang, bahkan negara-negara baru seperti China juga melaju dengan kereta-kereta berkecepatan tinggi, di Indonesia kisahnya sungguh berbeda. Selain dirundung persoalan layanan yang belum prima, jaminan keselamatan pun masih menjadi masalah serius.
Padahal, menurut pengamat perkeretaapian Moch Hendrowijono, kereta api adalah moda transportasi masa depan. Ia tidak hanya ramah lingkungan dan hemat bahan bakar, tetapi juga mampu membawa barang dan penumpang dalam jumlah banyak. Dari aspek ini, kereta api jelas sangat berbeda dibandingkan dengan moda transportasi darat lainnya, seperti bus atau truk.
Namun, sebagaimana diungkapkan Ketua Badan Anggaran DPR Harry Azhar Azis dalam satu seminar tentang transportasi, beberapa waktu lalu, volume kendaraan bermotor justru terus bertambah. Bus pariwisata, misalnya, jumlahnya naik 7,58 persen, sementara panjang jalan tidak banyak bertambah.
Langkah baru
Meskipun rekam jejak Indonesia di bidang perkeretaapian memang buruk, dengan pangsa pasar penumpang kereta hanya sekitar 6 persen dan kurang dari 1 persen untuk angkutan barang, moda ini sangat berpotensi untuk dikembangkan. China contohnya. Di negeri ”Tirai Bambu” itu, sekitar 60 persen barang dari sentra produksi menuju pelabuhan diangkut dengan kereta api. Demikian pula di India, tercatat 40 persen barang diangkut dengan kereta api. Dengan demikian, ada efisiensi logistik yang ikut andil menumbuhkan perekonomian negara setempat.
Potensi itulah yang, menurut Hendrowijono, layak dibidik oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI), apalagi selama ini terbukti bahwa keuntungan PT KAI sebagian besar dibukukan oleh angkutan barang seperti batu bara. Selain itu, tentu saja diperlukan upaya peningkatan pelayanan untuk angkutan penumpang.
Kamis kemarin, ketika rangkaian KA Harina terperosok, di belahan lain bumi diberitakan kereta api supercepat (320 kilometer per jam) ICE milik perusahaan Jerman, Deutsche Bahn, melaju sukses dari Perancis menuju Inggris.
Direktur Deutsche Bahn Ruediger Grube mengatakan, ”Kami yakin di masa mendatang perjalanan kereta api di Eropa menjadi permulaan sebuah zaman baru.”
Uni Eropa kini sedang mendorong efisiensi perjalanan di seantero Eropa. Dan, kereta api jadi pilihan utama sebagai sebuah perjalanan yang lebih mudah dan ramah lingkungan.
Jumat pekan lalu, Swiss pun mempertontonkan keberpihakannya pada kereta api, yakni ketika ratusan pekerja Terowongan Gotthard Base mensyukuri tembusnya terowongan kereta terpanjang di dunia (57 kilometer) itu. Ancaman kemacetan di masa depan, dan keinginan untuk melindungi ekologi Gunung Alpen, mendorong proyek itu dimulai 18 tahun silam.
November 2009, orang terkaya di dunia, Warren Buffett, juga menginvestasikan uang senilai 34 miliar dollar AS di sektor perkeretaapian. Buffett membeli saham Burlington Northern Santa Fe sebagai bentuk kepercayaan pada masa depan dunia perkeretaapian.
Kasus Indonesia
Meski berbagai tragedi menghantam, bukan berarti Indonesia harus patah arang. Direktur PT KAI Ignasius Jonan, Rabu di kantornya, menceritakan bagaimana Iran membangun sekitar 160 kilometer jalur mass rapid transit (MRT).
”Dengan dukungan kuat pemerintah, MRT di Iran selesai dalam tiga tahun saja. China Railway mengirim 2.000 tenaga kerja untuk bekerja siang malam,” kata Jonan. Tanpa banyak hiruk-pikuk dan perdebatan, MRT di Iran berhasil dioperasikan.
Setidaknya, Indonesia harus mampu berbuat serupa. Sebab, masa depan kita—masa depan sosial dan masa depan ekonomi—akan bergantung pada transportasi ini.
Keberpihakan negara maju, Eropa dan Amerika, kemudian ”macan” baru perekonomian seperti India dan China pada perkeretaapian dapat jadi contoh betapa pentingnya kereta api. Lagi pula, menambah jalan pun tak akan mampu menyelesaikan masalah. Penambahan jalan hanya mungkin untuk membuka kawasan, bukan untuk melayani wilayah padat seperti Jawa dan Sumatera.
Kemacetan di Jakarta seharusnya menyadarkan kita betapa buruknya menyerahkan transportasi kepada mekanisme pasar. Terlebih lagi ketika masyarakat terus dirangsang dengan kemudahan memiliki dan menggunakan kendaraan pribadi.
Tom Vanderbilt dalam bukunya, Traffic (2008), pun membuat bab tersendiri berjudul ”Why More Road Lead To More Traffic”. Intinya, dia mengisahkan mengapa pembangunan jalan baru hanya akan menarik minat lebih banyak orang naik kendaraan pribadi. Setelah jalan dibangun, ruang yang tercipta hanya sekejap dinikmati, untuk kemudian macet lagi.
Oleh karena itu, mari kita beralih ke kereta api....



NAMA : MOCHAMAD ZACKY MERDI
KELAS : 1KA31

NPM : 19110510

DOSEN : Asri Wulan

MATA KULIAH : Ilmu Sosial Dasar
Sumber: Kompas




Menembus Brunei, Gamang di Negeri Sendiri


Pertunjukan Wayang Menak dengan lakon Amir Hamzah Berguru dibawakan dalang Ki Junaedi dari ISI Yogyakarta, di tengah Seminar dan Pengenalan Wayang Menak yang diadakan oleh Asosiasi Wayang ASEAN bekerja sama dengan Angkatan Sasterawan dan Sasterawani Brunei, di Dewan Bahasa dan Pustaka, Bandar Seri Begawan, Brunei, yang berlangsung pada 13-17 Oktober 2010.
Satu jam sebelum keberangkatan delegasi dari Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia ke Brunei dengan misi mengenalkan wayang menak Indonesia kepada masyarakat Brunei, Rabu (13/10), dalang wayang suket Ki Slamet Gundono melayangkan pesan singkat secara beruntun yang memuat kegalauannya akan eksistensi wayang di Tanah Air.
Ia melaporkan sejumlah insiden yang menimpa pementasan wayang kulit di beberapa daerah, terutama di sekitar Solo, Jawa Tengah, yang mendapat intimidasi dari kelompok orang yang mengatasnamakan agama.
”Kasus terakhir di Bekonang. Saat jejer wayangan, datang kelompok itu sehingga wayangan terpaksa berhenti, lalu terjadi nego. Karena dalang dan tuan rumah bertahan, wayangan tetap dilanjutkan. Ini juga terjadi di Forum Watak. Wayangan mereka anggap musyrik,” tulis Slamet Gundono dalam pesan singkatnya.
Ketua Dewan Kesenian Sukoharjo Joko Ngadimin menjelaskan, insiden di Desa Sembung Wetan, Bekonang, terjadi pada Sabtu (9/10) malam. Sekitar 300 orang ”mengamuk” setelah terpancing provokasi dari warga penonton wayang kulit. Pentas wayang sempat terhenti beberapa saat, tetapi bisa berjalan lagi.
Berbagai kalangan menilai aksi sweeping yang dilakukan oleh kelompok itu terhadap pergelaran wayang di berbagai daerah, baik di kota dan pedesaan di sekitar Solo belakangan ini, merupakan intimidasi terhadap bentuk ungkap budaya yang selama ini memiliki daya hidup di masyarakat.
Pengurus Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (Senawangi) dan Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) yang menerima laporan spontan menyampaikan keprihatinannya. Ketua Umum Senawangi H Solichin meminta agar insiden-insiden yang menimpa dalang dan pentas wayang di daerah hendaknya dilaporkan berikut datanya secara rinci.
Ketua Pepadi Ekotjipto mengidentikkan aksi kelompok yang mengatasnamakan agama tersebut sebagai premanisme. ”Sekarang ini premanisme merebak di kalangan elite, baik yang berkedok agama, politik, maupun lainnya. Para dalang harus berani menghadapi premanisme seperti itu,” ujar Ekotjipto.
Sekretaris Jenderal Senawangi Amb Tupuk Sutrisno mengungkapkan, pihaknya telah melaporkan fenomena yang tengah merundung dunia pertunjukan wayang di Tanah Air itu kepada Sekjen Kementerian Agama Nazaruddin yang ditemui di Bandar Seri Begawan, Brunei, pekan lalu. ”Pak Nazaruddin berpesan agar persoalan ini tidak di-blow up. Kita juga diminta introspeksi karena menurut beliau, dalam kasus sweeping itu, sering kali didapati warga yang mabuk-mabukan dan bermain judi,” katanya.
Lolos sensor
Bayang kecemasan terhadap dunia wayang di Tanah Air itu sejenak terlupakan saat rombongan Senawangi menginjakkan kaki di Bumi Brunei. Di negeri yang menganut asas Melayu Islam Beraja ini, Senawangi sengaja ”menawarkan” pertunjukan wayang menak kepada rakyat Brunei (400.000 jiwa). Langkah ini sebagai tindak lanjut Sidang APA III di Manila, Februari 2010.
Brunei adalah satu-satunya negara, dari 10 negara anggota ASEAN, yang belum memiliki seni pertunjukan wayang. Pengertian ”wayang” di sini—disepakati oleh ASEAN Puppetry Asociation (APA) atau Asosiasi Wayang ASEAN—bukan hanya wayang kulit, tetapi juga wayang golek, wayang beber, atau seni pertunjukan boneka (marionnette), termasuk pertunjukan teater tradisional yang membawakan kisah wayang.
Di Brunei, pengertian ”wayang” adalah segala jenis teater, termasuk film. ”Pertunjukan wayang yang dibuat, seperti tayangan di televisi, biasanya sebagai media pendidikan untuk anak. Adapun wayang sebagai budaya tradisi, serta dipertunjukkan secara berkala seperti di Indonesia, belum terdapat di Brunei,” papar Dr Zefri Ariff, budayawan dari Angkatan Sasterawan dan Sasterawani Brunei (Asterawani) dalam Seminar Wayang ASEAN, di Dewan Bahasa dan Pustaka, Bandar Seri Begawan.
Pembicara lain dalam seminar adalah Prof Ghulam-Sarwar Yousof (Malaysia), Dr Suyanto (Indonesia), Prof Amihan Bonifacio-Ramolete (Filipina), dan Dr Chua Soo Pong (Singapura). Seminar yang diikuti pengenalan wayang menak oleh Didy Indriani Haryono dari Senawangi ini dibuka oleh Pejabat Menteri Kebudayaan, Belia dan Sukan, Datin Adina binti Othman.
Didy Haryono memaparkan, wayang menak yang memuat ajaran Islam berkembang di Jawa pada abad ke-17. Kisah menak diangkat dari ”Hikayat Amir Hamzah” yang populer di masyarakat Melayu. ”Menak artinya bangsawan atau ningrat. Ini berhubungan dengan sistem kerajaan yang berlaku di Jawa saat itu,” ujar Didy seraya menambahkan, karena itu jenis wayang menak cocok untuk dibawakan di Brunei mengingat pemerintahannya juga menganut sistem kerajaan (monarki absolut).
Tawaran dari Senawangi yang memilih wayang menak sebagai pertunjukan di Brunei, menurut Tupuk Sutrisno, sebagai ”perjalanan panjang menembus Brunei”. Dari Kedutaan Besar RI di Brunei, pihaknya memperoleh gambaran tentang kesulitan yang bakal dihadapi di Brunei mengingat masyarakatnya berpegang teguh pada nilai-nilai agama (Islam). Selain itu, semua pertunjukan untuk umum harus melalui prosedur sensor.
Sebagai prosedur awal, untuk pertunjukan wayang di Brunei itu, pihak Senawangi harus mengantungi ”surat kebenaran” atau semacam letter of trust. Surat sakti tersebut baru diterima Senawangi tiga hari menjelang keberangkatan ke Brunei. Dan, sebelum dipertunjukkan untuk umum pada Sabtu (16/10), baik wayang menak dengan lakon ”Amir Hamzah Berguru” serta wayang purwa dengan lakon ”Anoman Duta” mesti menjalani uji sensor yang dilakukan Kementerian Dalam Negeri Brunei.
Ada delapan pegawai kementerian yang dikirim untuk menyaksikan pertunjukan wayang yang dibawakan oleh dalang Ki Junaedi (wayang menak) dan Ki Anton Surono (wayang purwa). Setelah 20 menit menyaksikan pergelaran, petugas sensor menyatakan wayang dari Indonesia itu lolos untuk dipertunjukkan.
Apresiasi
Penonton yang hadir di Balai Sarmayuda, tempat pementasan, umumnya mengapresiasi pertunjukan wayang dari Jawa itu. Mereka tampak surprise ketika menyaksikan wayang purwa yang dibawakan Ki Anton Surono yang atraktif dengan dialog-dialog berbahasa Inggris berlogat Tegal, tetapi justru terasa komunikatif.
Sait Haji Jali, Dayangku Hj Fatimah, dan Pangiran Ratna Surya dari Dewan Bahasa dan Pustaka Brunei menyatakan kekaguman mereka akan budaya wayang yang berkembang di Indonesia. ”Akan sangat sayang kalau budaya tradisi seperti ini punah,” ujar Sait.
Ketiganya tidak melihat wayang identik dengan budaya Hindu, atau sebagai media pemujaan terhadap dewa-dewa. ”Kalau dalam pertunjukan wayang itu didahului dengan mantra-mantra atau pakai sesaji dan membakar kemenyan sehingga orang menjauhi syariat agama, itu yang tidak boleh,” tutur Dayangku Hj Fatimah.
Ketua APA Brunei H Abdul Hakim bin H Moh Yassin mengatakan, setelah menyaksikan pertunjukan wayang dari Indonesia, kalangan budayawan akan mengkaji lebih lanjut bentuk wayang yang cocok diciptakan di Brunei. Tentang anggapan bahwa Pemerintah Brunei melarang pertunjukan boneka sebagai identik pemujaan kepada dewa, Zefri Ariff menjelaskan, larangan itu tidak seketat seperti disangkakan orang. Pasalnya, maskot ayam KFC atau Donald Bebek berbentuk patung pun bisa diterima di Brunei.
Respons positif serta apresiasi masyarakat Brunei terhadap wayang Indonesia itu melegakan dan merupakan sebuah kejutan bagi delegasi dari Senawangi. Namun, di Tanah Air, eksistensi kesenian wayang justru mendapat tantangan baru. Bukan karena transformasi sosial atau modernitas yang menggilas nilai-nilai luhur di dalam wayang, melainkan ”momok” yang lain....



NAMA : MOCHAMAD ZACKY MERDI
KELAS : 1KA31

NPM : 19110510

DOSEN : Asri Wulan

MATA KULIAH : Ilmu Sosial Dasar

Rabu, 06 Oktober 2010

Beberapa menit yang lalu, tim pengembangan Ubuntu mengeluarkan Release Candidate (RC) versi dari sistem yang akan datang 10.10 Ubuntu (Maverick Meerkat) operasi, akan dirilis pada 10 Oktober 2010. Seperti biasa, kami sudah download salinan itu dalam rangka untuk membuat Anda tetap up-to-date dengan perubahan terbaru dalam pengembangan Ubuntu 10.10.


Apa yang baru di Ubuntu 10,10 RC? Nah, ini adalah rilis pengembangan terakhir dari sistem operasi Ubuntu yang akan datang 10.10, dan setiap orang harus mendapatkannya dan mengujinya! Ini hampir sama dengan versi terakhir, yang akan dirilis dalam 10 hari dari hari ini!
10.10 Ubuntu Release Candidate hadir dengan versi final dari lingkungan desktop GNOME 2.32.0.
Shotwell sekarang adalah penampil gambar defaul dan editor, dan diganti F-Spot. Juga, Gwibber menerima dukungan untuk sistem otentikasi Twitter baru, dan perbaikan lainnya.
Sound Indikator applet telah sangat ditingkatkan untuk menyertakan kontrol untuk pemutar musik. Morover, Ubuntu Software Center dan Ubuntu Satu jasa yang diterima banyak perangkat tambahan!





Ubuntu Netbook Remix 10,10 RC Persatuan fitur antarmuka baru dan menakjubkan!





Apa yang baru dalam Kubuntu 10,10 RC? Nah, versi Beta Kubuntu 10.10 dibangun di atas KDE Software, Kompilasi 4.5.1 yang membawa banyak fitur menarik.
PulseAudio sekarang server suara default, BlueDevil adalah standar bluetooth stack, Global Menu telah ditetapkan secara default untuk Plasma Netbook, Rekonq adalah browser web default, dan Ubiquity installer telah dirubah.



Apa yang baru di Xubuntu 10,10 RC? The Release Candidate versi Xubuntu 10.10 dibangun di atas lingkungan desktop Xfce 4.6.2. Ini juga termasuk wallpaper baru.
Pada 10 Oktober, 2010 Ubuntu 10.10 (Maverick Meerkat) akan menjadi rilis ketiga belas dari sistem operasi Ubuntu. Sampai jumpa lagi dalam 10 hari, untuk merayakan rilis final dari sistem Ubuntu 10.10 (Maverick Meerkat) yang beroperasi!

sumber: http://www.lintasberita.com

Sabtu, 02 Oktober 2010

"Yet we must… exhaust the resources of the concept of the experience before attaining and in order to attain, by deconstruction, its ultimate foundation. It is the only way to escape ’empiricism’ and the ’naïve’ critique of experience at the same time."

FEBRUARI 1661. Hawa musim dingin masih menyelimuti Kota London. The Royal Society yang baru berusia satu tahun sedang menerima kunjungan Duta Besar Kerajaan Denmark. Pertemuan dengan tamu agung ini bukanlah pertemuan biasa. Ada satu peristiwa menarik. Robert Boyle, salah satu pendiri organisasi ilmuwan bergengsi ini, mendemonstrasikan sebuah pompa udara hasil kerja selama beberapa tahun bersama Robert Hooke di Oxford. Machina Boyleana itu terdiri dari sebuah bola kaca yang berisi udara yang disambungkan pada sebuah pompa di bagian bawah. Ketika pompa itu ditarik, bola kaca tersebut menjadi ruang hampa udara. Para tamu yang hadir terkesima. Mereka menjadi saksi kemenangan Boyle atas tesis Thomas Hobbes yang mengatakan bahwa udara tidak akan meninggalkan bola kaca. Melalui pompa udara ini, Boyle dapat membuktikan bahwa volume dari sebuah tabung berbanding terbalik dengan tekanan yang ada di dalamnya. Hukum Boyle lahir dari pompa ini.
POMPA udara Boyle adalah mesin yang memproduksi fakta dan menguji keabsahan suatu pengetahuan. Bagi Boyle, fakta ilmiah hanya dapat lahir dari eksperimen yang dilakukan secara empiris. Di sinilah tonggak awal sains modern dimulai. Eksperimen menjadi bagian signifikan dalam epistemologi sains. Eksperimen adalah ruang di mana fakta ilmiah "ditemukan". Dalam sains, fakta ilmiah bersifat self-explanatory, dalam arti dia menjelaskan dirinya sendiri. Saintis "hanyalah" pengamat yang menjadi modest witness atau saksi jujur bagaimana fakta tersebut dimunculkan melalui suatu konfigurasi teknis material. Klaim obyektivisme menuntut saintis untuk berada di wilayah yang terpisah dari fakta yang diamatinya.
Apakah suatu obyek pengetahuan bersifat self-explanatory? Di manakah sebenarnya posisi ontologis manusia dalam proses produksi pengetahuan dalam sains? Sejauh manakah klaim atas obyektivitas sains dapat dijadikan pegangan? Apakah sains merupakan suatu ruang vakum yang lepas sama sekali dari segala bentuk imajinasi manusia? Pertanyaan-pertanyaan besar inilah yang menjadi landasan dan motivasi bagi studi sains kontemporer dalam memahami relasi antara manusia dan ilmu pengetahuan yang dihasilkannya.
Bagi para sarjana studi sains (science studies), sains adalah produk sosial. Dia diproduksi melalui mekanisme interaksi dan negosiasi yang terbentuk dari suatu sistem sosial yang sarat dengan bentukan-bentukan imajinatif, seperti nilai, makna, cara pandang, ideologi, dan kepercayaan. Memahami sains melalui dimensi sosial secara epistemologis menarik sekaligus menantang. Menarik karena sains adalah karya manusia, di mana manusia itu sendiri adalah spesies yang tidak pernah lepas dari dunia sosial. Menantang karena pengetahuan ilmiah selama ini dipahami sebagai hasil murni kemampuan logika manusia yang lepas dari faktor sosial.

Generasi awal
Berkembangnya sains modern di Eropa yang dipicu oleh semangat Enlightenment telah menjadi perhatian banyak pemikir sosial abad ke-19. Dalam catatan Sal Restivo, sains telah menjadi salah satu kajian dalam karya Karl Marx. Bagi Marx, tidak hanya material dan bahasa yang digunakan para saintis dalam mengamati fenomena alam adalah produk sosial, keberadaan para saintis juga merupakan suatu fenomena sosial. Beberapa kontribusi terpenting Marx dalam studi sains antara lain pemahaman relasi antara praktik matematika dan sistem produksi. Bagi Marx, sains adalah produk kaum borjuis. Karena itu, apa yang dilakukan Marx dalam memahami sains berlanjut pada agenda politik untuk melakukan perubahan fundamental dalam sains modern. Pada titik ini, dalam analisis Restivo, Marx bersikap inkonsisten. Pada satu sisi dia mengkritik sains sebagai alat eksploitasi kaum pemilik modal, tetapi di sisi lain dia mendukung penggunaan sains bagi tujuan-tujuan politik kaum proletar.
Cikal bakal studi sains dibentuk oleh Emile Durkheim dan Max Weber. Seperti Marx, keduanya memahami sains dari sudut pandang sosiologis. Bagi Durkheim, konsep-konsep ilmiah yang dihasilkan dalam sains memiliki status representasi dan elaborasi kolektif. Weber sendiri memberi perhatian serius pada keterkaitan antara kapitalisme, Protestanisme, dan sains modern. Pemikiran Weber dan Durkheim memberi jalan bagi terbentuknya sosiologi sains sebagai suatu disiplin dalam tradisi akademik di Eropa Barat dan Amerika Utara.

Mertonian vs Kuhnian
Munculnya sosiologi sains sebagai suatu disiplin pada awal abad ke-20 banyak dipengaruhi oleh pemikiran Max Weber. Robert Merton adalah sosok sentral dalam bidang ini dan dapat disebut sebagai bapak sosiologi sains. Merton menyelesaikan studinya di Harvard pada tahun 1934 dengan disertasi yang menjadi buku berjudul The Sociology of Science. Buku ini menjelaskan relasi antara sains dan institusi sosial di mana sains itu berada. Tesis Merton mengatakan bahwa sains modern hanya dapat tumbuh dan berkembang dalam kondisi sosiokultural tertentu.
Hingga dekade 1970-an, paradigma Mertonian mendominasi perkembangan sosiologi sains. Gagasan besar dalam sosiologi sains Mertonian dapat dirangkum dalam norma sains (norms of science) yang terdiri atas empat nilai fundamental yang membentuk etos sains.
Pertama universalisme, yakni kepercayaan bahwa klaim kebenaran lepas dari kriteria personal seperti ras, kebangsaan, atau agama. Kedua komunisme (bukan dalam makna ideologi), yakni setiap penemuan dalam sains menjadi milik bersama dalam komunitas sains tersebut. Ketiga ketiadaan kepentingan, yakni pengetahuan bersifat bebas nilai dan kepentingan. Keempat skeptisisme yang terorganisasi, yakni bahwa perkembangan pengetahuan muncul dari sikap skeptis kolektif para saintis terhadap setiap pemahaman atas fenomena alam.
Sosiologi sains Mertonian berlandaskan pada satu asumsi bahwa sifat dan perkembangan sains ditentukan oleh faktor sosial dan faktor imanen. Yang dimaksud dengan faktor imanen adalah perkembangan logika dalam sains (inner logic). Dari sini kita bisa melihat bahwa dalam sosiologi sains Mertonian, pengetahuan ilmiah masih lepas dari analisis sosial. Belakangan norma sains Mertonian mendapat kritik tajam karena keempat norma tersebut tidak lebih dari representasi ideologi sains itu sendiri.
Pada tahun 1962, Thomas Kuhn, seorang fisikawan yang kemudian berkarier sebagai sejarawan sains, menerbitkan The Structure of Scientific Revolution. Lewat buku ini Kuhn melontarkan istilah paradigma yang mengacu pada cara pandang kelompok ilmiah tertentu terhadap suatu fenomena. Walaupun tidak memiliki latar belakang sosiologi, karya Kuhn memberi kontribusi penting dalam sosiologi sains. Kuhn memberi penjelasan alternatif terhadap apa yang dilakukan Merton selama beberapa dekade sebelumnya. Karena itu, paradigma Kuhnian sering diasosiasikan sebagai anti-Mertonian.
Karya Kuhn menarik banyak orang karena dia menggunakan model politik dalam menjelaskan perkembangan sains. Kuhn memakai istilah revolusi untuk menggambarkan proses invensi dalam sains dan memberi penekanan serius pada aspek wacana ilmiah. Bagi Kuhn, revolusi ilmiah dan revolusi politik memiliki karakter yang sama. Keduanya terbentuk dari persepsi yang ada di masyarakat bahwa institusi di mana mereka berada sudah tidak bekerja dengan baik. Persepsi ini lalu menstimulus lahirnya krisis yang menuju pada revolusi dengan tujuan perubahan institusional.
Orientasi anti-Mertonian bagaimanapun tidak menjadikan Kuhn sepenuhnya bertolak belakang dengan Merton. Kuhn masih menerima penjelasan Merton tentang norma sains. Walaupun telah memicu perubahan dalam pemahaman sains, Kuhn sendiri tidak lepas dari kritikan. Studi empiris yang dilakukan Sal Restivo dan Randal Collins tentang paradigma sains Kuhnian menyimpulkan bahwa pola perubahan dalam sains secara substansial berbeda dengan apa yang dilontarkan oleh Kuhn. Model Kuhnian juga dikritik karena mengacu pada revolusi sistem politik modern yang semata-mata terjadi melalui sirkulasi kaum elite.

Genre konstruktivisme
Jika Max Weber membuka jalan bagi terbentuknya disiplin sosiologi sains, khususnya paradigma Mertonian, pemikiran Emile Durkheim tentang representasi kolektif memberi inspirasi bagi gerakan sosiologi sains pasca-Mertonian atau yang disebut sebagai the new sociology of science. Sosiologi sains baru tidak hanya mengkaji aspek institusional dalam sains, tetapi masuk ke dalam wilayah yang lebih dalam. Di sini pengetahuan ilmiah dijadikan obyek analisis sosial, sesuatu yang tidak dilakukan oleh Merton dan para muridnya. Karena itu, sosiologi sains baru sering diidentikkan dengan sosiologi pengetahuan ilmiah (sociology of scientific knowledge).
Ciri kuat dari sosiologi sains baru adalah penggunaan kerangka konstruktivisme. Konsep konstruktivisme sosial yang menjelaskan produksi pengetahuan ilmiah pertama kali digunakan Ludwik Fleck dalam bukunya, The Genesis and Development of a Scientific Fact. Buku ini pertama kali terbit pada tahun 1935 dalam bahasa Jerman. Setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris pada tahun 1979, barulah pemikiran Fleck mendapat perhatian serius dari para sarjana studi sains.
Fleck memperkenalkan konsep gaya berpikir (thought style) yang menyerupai konsep representasi kolektif Durkheimian. Gaya berpikir mengacu pada perilaku berpikir, asumsi kultural dan keilmuan, pendidikan dan pelatihan profesional, serta minat dan kesempatan, yang mana kesemuanya membentuk persepsi dan cara menghasilkan teori (theorizing).
Strong Programme adalah salah satu kubu studi sains yang kental dengan pendekatan konstruktivisme. Tokoh sentral Strong Programme adalah David Bloor. Bagi Bloor, sains tidaklah berkembang secara linier seperti yang dipahami secara luas. Sains berkembang membentuk cabang-cabang yang kompleks sesuai dengan heterogenitas dalam sistem sosial. Diterimanya suatu konsep ilmiah sebagai paradigma tunggal dalam memahami suatu fenomena tidak lain karena adanya faktor dan konteks sosial tertentu yang bekerja dalam proses penerimaan itu. Karena itu, pengetahuan dalam sains dapat berbeda mengikuti bentukan sosial.
Tokoh lain dalam gerakan sosiologi sains baru adalah Bruno Latour. Latour adalah salah satu penggagas actor-network theory (ANT) yang menjelaskan lahirnya suatu pengetahuan melalui relasi antara masyarakat (konstruktivisme sosial) dan alam (realisme). Dalam ANT, sosiolog sains memberikan perhatian tidak semata-mata pada manusia (actant), tapi juga pada benda dan obyek (non-actant) secara simetris. Bersama Steve Woolgar, Latour melakukan studi etnografi di laboratorium endocrinology Salk Institute.
Hasil studi ini menghasilkan Laboratory Life: The Social Construction of Scientific Facts. Dalam buku ini Latour dan Woolgar mengungkap budaya dalam laboratorium yang membentuk korespondensi antara kelompok peneliti sebagai suatu jaringan dengan seperangkat kepercayaan, perilaku, pengetahuan yang sistematis, eksperimen, dan keterampilan yang terkait satu sama lain secara kompleks. Menurut Latour dan Woolgar, dalam suatu laboratorium, kegiatan observasi bersifat lokal dan memiliki budaya spesifik.
Andrew Pickering patut disebut dalam khazanah sosiologi sains baru. Dalam Constructing Quarks, Pickering yang memiliki latar belakang fisika teori menjelaskan secara sosiologis lahirnya konsep quark. Bagi kalangan fisikawan, quark lahir dari bukti empirik yang didapatkan melalui eksperimen. Eksperimen itu sendiri dapat dipahami secara sempurna karena bekerja dalam suatu sistem yang tertutup (closed system).
Permasalahannya, menurut Pickering, eksperimen bukanlah suatu sistem yang tertutup. Dia sangat tergantung pada teori yang menjadi landasannya. Di lain pihak, pemilihan teori sebagai raison d’etre suatu eksperimen tergantung dari penilaian (judgment) para saintis. Pada titik inilah praktik sains dibangun melalui tiga elemen yang saling mempengaruhi satu sama lain, yakni eksperimen, teori, dan penilaian. Karena itu, menurut Pickering, realitas quark adalah hasil dari praktik fisika partikel, bukan sebaliknya. Konsep quark lahir dari proses penilaian dan pemilihan teori dan tidak muncul begitu saja dari serangkaian eksperimen.
Kerangka konstruktivisme dalam studi sains telah memicu konflik intelektual antara para saintis dan para sarjana studi sains. Penjelasan konstruktivisme sosial dianggap ancaman terhadap integritas, legitimasi, dan otonomi sains. Konstruktivisme, yang sering diasosiasikan sebagai relativisme, dianggap menafikan apa yang telah dicapai sains dalam memahami fenomena alam. Tetapi, seperti yang dijelaskan oleh Restivo, para konstruktivis dalam studi sains bukanlah antirealisme. Tidak sedikit dari mereka yang mempertahankan metode dan cara pandang dalam sains. Sebagai contoh adalah Strong Programme yang secara epistemologis menggabungkan metode sains dan sosiologi dalam memahami sains sebagai konstruksi sosial. Hal ini diperkuat oleh pernyataan Bloor sendiri bahwa hanya dengan metode sains, para sosiolog dapat memahami sains. Kasus Latour juga tak kalah menarik. Dalam edisi kedua Laboratory Life, kata social dalam subjudul dihilangkan. Tidak lama setelah itu tuduhan sebagai "pengkhianat" konstruktivisme ditujukan kepada Latour. Belakangan Latour sendiri menolak untuk disebut sebagai konstruktivis. Bagi Latour, sains adalah media untuk memahami masyarakat, bukan sebaliknya.

Sains dan budaya
Memasuki dekade tahun 1990-an, studi sains menjadi lebih semarak dengan bergabungnya para antropolog dalam tradisi intelektual ini. Selama lebih dari satu dekade terakhir, para sarjana studi sains dari disiplin ini memberi kontribusi dalam memahami bagaimana pengetahuan dalam sains diproduksi melalui proses pemaknaan dan praktik budaya.
Pemahaman budaya dalam sains dijelaskan oleh Timothy Lenoir. Lenoir berargumen bahwa pengetahuan adalah hasil interpretasi di mana obyek pengetahuan dan pengamat (interpreter) tidak berdiri secara terpisah satu sama lainnya. Aktivitas interpretasi adalah praktik budaya yang melibatkan faktor kognitif dan faktor sosial yang saling berimplikasi satu sama lain. Kedua faktor ini senantiasa melekat pada para pelaku produksi pengetahuan (saintis). Dengan pemahaman sains sebagai praktik budaya, Lenoir menolak klaim Merton tentang universalisme dan disinterestedness dalam sains karena pengetahuan selalu bersifat lokal, parsial, dan dilandasi kepentingan.
Secara antropologis, sistem pengetahuan terbentuk dari upaya manusia untuk bertahan hidup melalui pemahaman regularitas yang terjadi di alam. Sandra Harding mengidentifikasi empat jenis elemen budaya yang membentuk inti kognitif dari sistem pengetahuan. Pertama, karena alam tidak bersifat seragam (uniformly organized), regularitas alam yang berbeda yang dialami oleh sistem kebudayaan yang berbeda lokasi akan menghasilkan sistem pengetahuan yang berbeda pula. Kedua, bentuk kepentingan sosial berbeda dalam setiap sistem budaya. Karena itu, setiap sistem budaya menghasilkan perbedaan dalam pola pengetahuan. Ketiga, sistem budaya membentuk wacana dalam proses produksi pengetahuan yang selanjutnya mempengaruhi cara pandang dan pola intervensi masyarakat dalam sistem budaya tersebut. Terakhir, bentuk-bentuk organisasi sosial dalam penelitian ilmiah yang berbeda secara kultural akan mempengaruhi isi dari sistem pengetahuan.
Catatan Harding di atas mengindikasikan bahwa sains dikonstruksi melalui budaya. Artinya, wacana sistem pengetahuan tidak pernah lepas dari konteks budaya di mana sistem pengetahuan tersebut berada. Studi Pamela Asquith dapat dijadikan satu contoh menarik. Asquith melakukan studi komparasi kultural dan intelektual antara primatologi Barat (Eropa dan Amerika) dan primatologi Jepang. Asquith mencari heterogenitas dalam sains dengan membandingkan cara pandang, bentuk pertanyaan, dan metode penelitian primatologi di kedua sistem budaya tersebut. Dari studi ini, Asquith mengamati satu hal yang menarik. Dalam pandangan Kristen yang mempengaruhi para primatologis Barat, hanya manusia yang memiliki jiwa. Pandangan ini "menghalangi" primatologis Barat untuk melihat kualitas mental yang membentuk perilaku sosial primata yang kompleks. Sebaliknya, sistem kepercayaan masyarakat Jepang mempercayai bahwa setiap hewan memiliki jiwa. Hal ini membuat primatologis Jepang memberi perhatian serius pada atribut motivasi, perasaan, dan personalitas yang ditunjukkan oleh hewan primata yang mereka amati. Perbedaan sistem kepercayaan tentang posisi manusia di dunia ini menjadikan pengetahuan yang dihasilkan oleh primatologis Barat berbeda dengan rekan sejawatnya di Jepang. Primatologi Barat cenderung bersifat fisiologis, sementara primatologi Jepang lebih bersifat sosiologis dan antropormorfis. Perbedaan ini berdampak pada perbedaan pengetahuan yang dihasilkan dalam kedua tradisi primatologi tersebut walaupun mereka mengamati obyek yang sejenis.
Studi komparasi kultural juga dilakukan Sharon Traweek yang membandingkan praktik fisika energi tinggi di Amerika Serikat dan Jepang. Jika Asquith mencari pengaruh budaya terhadap bentuk pengetahuan, Traweek mengamati bagaimana nilai budaya direpresentasikan melalui model organisasi sains. Pada studi ini, Traweek melihat nilai individualisme dan persaingan yang melandasi sistem organisasi riset Amerika. Adapun di Jepang, nilai-nilai komunalisme dan kerja sama sangat dominan. Perbedaan dalam nilai budaya ini terefleksi dalam banyak hal yang mencakup proses pembelajaran dan pengajaran, organisasi laboratorium dan kelompok, gaya kepemimpinan, dan proses pengambilan keputusan. Walaupun Traweek tidak menjelaskan apakah perbedaan nilai budaya ini mempengaruhi pengetahuan yang dihasilkan, setidaknya studi Traweek menunjukkan bahwa nilai budaya melekat erat pada sistem organisasi ilmiah.
Jika Asquith dan Traweek mengamati praktik sains dalam dua sistem budaya, Karen Knorr-Cetina membandingkan dua praktik sains modern, yaitu fisika partikel dan biologi molekuler. Knorr-Cetina mengamati bagaimana fragmentasi dan diversitas dalam sains modern membentuk dua budaya pengetahuan (epistemic culture) yang berbeda dalam aspek cara mengetahui (machineries of knowing). Dari hasil studinya selama beberapa tahun di laboratorium-laboratorium di Eropa dan Amerika Utara, Knorr-Cetina mengungkap perbedaan struktur simbolik dari kedua bidang ilmiah tersebut. Struktur simbolik ini terepresentasi melalui cara pendefinisian entitas, sistem klasifikasi, dan cara di mana strategi epistemik, prosedur empirik, dan strategi sosial dipahami. Analisis ini menghasilkan pemahaman bahwa dalam proses produksi pengetahuan, proses tanda, pengerjaan eksperimen, relasi antara waktu dan ruang, dan relasi antara tubuh dan mesin secara kultural berbeda antara praktik fisika partikel dan biologi molekuler. Melalui studi komparasi silang disiplin ini, Knorr-Cetina mengatakan bahwa sains modern tidaklah menyatu seperti yang diklaim kaum positivis.

Sains dan studi sains
Konsep dan teori yang dikembangkan dalam studi sains berangkat dari pemahaman sains sebagai institusi sosial dan pengetahuan ilmiah sebagai produk sosial. Melalui pemahaman ini, studi sains membuka suatu jendela baru di mana kita bisa memandang perkembangan sains dari perspektif yang lebih luas. Dalam perspektif ini, sains tidak lagi muncul sebagai suatu entitas yang integratif, rigid, dan berkembang secara linier, melainkan bagai suatu tanaman bercabang-cabang yang tumbuh di atas tanah sosial.
Pemahaman sains melalui dimensi sosial yang ditawarkan studi sains berdampak pada demistifikasi sains secara institusional ataupun epistemologikal. Ini merupakan implikasi politis yang tidak dapat dihindari. Ketergantungan masyarakat kontemporer terhadap sains telah menempatkan sains pada posisi sakral dan bersifat ideologis. Mistifikasi sains yang begitu kental dalam masyarakat ini memungkinkan praktik hegemoni kekuasaan dan kepentingan bersembunyi dengan rapi di balik jargon-jargon ilmiah. Tanpa menafikan apa yang telah dihasilkan sains bagi umat manusia, studi sains memberi penyadaran kepada diri kita bahwa sains adalah hasil karya manusia dalam berinteraksi dengan alam. Sains bukanlah sekumpulan ayat-ayat suci yang turun dari langit. Pengetahuan ilmiah adalah wujud kreativitas dan imajinasi manusia dalam memahami ruang dan waktu di mana dia berada. Pemahaman dimensi sosial sains dapat menjadi lensa untuk melihat bahwa pengetahuan tidaklah tunggal dan monolitik. Kepercayaan bahwa hanya ada satu cara melihat alam justru melawan hakikat manusia sebagai makhluk multikultural.
Lalu, apakah studi sains menawarkan relativisme? Donna Haraway memberi jawaban menarik. Haraway menolak relativisme sekaligus universalisme yang diklaim para saintis. Haraway berargumen bahwa obyektivitas dalam sains tidaklah tunggal. Karena itu Haraway menawarkan praktik difraksi, di mana obyektivitas dan realisme agensi dalam produksi pengetahuan memiliki posisi yang sama pentingnya. Ini yang disebut Ron Eglash sebagai obyektivitas ganda (multiple objectivity). Haraway mengajak kita untuk menggunakan domain budaya lain dalam sains yang selama ini termarginalisasi oleh dominasi narasi budaya Barat. Hawaray menginginkan adanya suatu budaya sains yang lebih kompleks dan beragam tanpa harus menjadi antirealisme.
Selama beberapa dekade, studi sains telah memberi kontribusi pada pemahaman yang lebih komprehensif tentang sains dan relasinya dengan masyarakat. Lepas dari konflik antara para saintis dan sarjana studi sains dalam episode Science Wars, apa yang dihasilkan dalam studi sains sedikit banyak telah mempengaruhi perjalanan sains secara dinamis. Sebaliknya, sains pun telah memberi banyak kontribusi bagi studi sains untuk tumbuh dan berkembang sebagai suatu disiplin. Karena tanpa sains, studi sains tidak berarti apa-apa.

NAMA : MOCHAMAD ZACKY MERDI
KELAS : 1KA31

NPM : 19110510

DOSEN : Asri Wulan

MATA KULIAH : Ilmu Sosial Dasar

sumber:
http://asmakmalaikat.com/go/artikel/sosiologi/sosio1.htm
A. Pengaertian Ilmu Sosial Dasar


    Untuk menjawab berbagai tantangan dan persoalan dalam kehidupan lahirlah berbagai cabang ilmu pengetahuan. Berdasarkan sumber filsafat yang dianggap sebagai ibu dari ilmu pengetahuan, maka ilmu pengetahuan dapat dikelompokkan menjadi tiga :

a. Ilmu-ilmu Alamiah (natural science)

   Yang bertujuan mengetahui keteraturan-keteraturan yang terdapat dalam alam semesta. Untuk mengkaji hal itu digunakan metode ilmiah.

b. Ilmu-ilmu Sosial (social science)

    Yang bertujuan untuk mengkaji keteraturan-keteraturan yang terdapat dalam hubungan antar manusia.

c. Pengetahuan Budaya (the humanities)

    Yang bertujuan untuk memahami dan mencari arti kenyataan-kenyataan yang bersifat manusiawi. Untuk mengkaji hal itu digunakan metode pengungkapan peristiwa-peristiwa dan pernyataan-pernyataan yang bersifat unik, kemudian diberi arti. Pengetahuan budaya (The Humanities) dibatasi sebagai pengetahuan yang mencangkup keahlian (disiplin) srni dan filsafat. Basic Humanities adalah usaha yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan.

Ilmu sosial dasar adalah pengetahuan yang menelaah masalah-masalah sosial, khususnya yang diwujudkan oleh masyarakat Indonesia dengan menggunakan pengertian-pengertian (fakta, konsep, teori) yang berasal dari berbagi bidang pengetahuan keahlian dalam lapangan ilmu-ilmu sosial seperti sejarah, ekonomi, geografi sosial, sosiologi, antropologi, psykologi sosial. ISD tidak merupakan gabungan dari ilmu-ilmu sosial yang dipadukan, karena masing-masing sebagian disiplin ilmu memiliki objek dan metode ilmiahnya sendiri-sendiri yang tidak mungkin dipadukan dan juga bukan merupakan disiplin ilmu tersendiri.

B. Tujuan Ilmu Sosial Dasar

Ilmu sosial dasar mempunyai tujuan pembinaan mahasiswa agar :

  • Membantu perkembangan pikir mahasiswa dan kepribadian agar memperoleh wawasan yang lebih luas dan ciri kepribadian yang diharapkan dari setiap golongan terpelajar Indonesia.
  • Peka terhadap masalah-masalah sosial dan tanggap untuk ikit serta dalam usaha-usaha menanggulanginya.
  • Memahami jalan pikiran para ahli dari bidang ilmu pengetahuan lain dan dapat berkomunikasi dengan mereka dalam rangka penanggulangan masalah sosial yang timbul dalam masyarakat.

C. Hubungan Ilmu Sosial Dasar dan Ilmu Pengetahuan Sosial

Hubungan dari keduanya antara lain adalah :

  • Kedua-duanya merupakan bahan studi untuk kepentingan program pendidikan/pengajaran.
  • Keduanya bukan disiplin ilmu yang berdiri sendiri.
  • Ilmu Sosial Dasar diberikan di Perguruan Tinggi, sedangkan Ilmu Pengetahuan Sosial diberikan di Sekolah Dasar dan Sekolah Lanjutan.

D. Ruang Lingkup Ilmu Sosial Dasar

    Ruang Lingkup Ilmu Budaya Dasar Bertitik tolak dari kerangka tujuan yang telah ditetapkan, dua masalah pokok bisa dipakai sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan ruang lingkup kajian mata kuliah IBD. Kedua masalah pokok itu adalah :

       Ada 2 masalah yang dipakai sebagai pertimbangan untuk menentukan ruang lingkup pembahasan mata kuliah ISD.

  • Berbagai aspek yang merupakan suatu masalah sosial yang dapat ditanggapi dengan pendekatan sendiri atau pendekatan gabungan antar bidang.

  • Adanya keragaman golongan dan kesatuan sosial lain dalam masyarakat.

Berdasarkan ruang lingkup di atas masih perlu penjabaran untuk bisa dioperasionalkan ke pokok bahasan dan sub pokok bahasan Yaitu :

1. Mempelajarai adanya berbagai masalah kependudukan dan hubungan dengan
 perkembangan masyarakat dan kebudayaan.
2. Mempelajari adanya masalah individu dan masyarakat.
3. Mengkaji masalah kependudukan dan sosialisasi.
4. Mempelajari hubungan antar warga negara dan negara.
5. Mempelajari hubungan antara pelapisan sosial dan persamaan derajat.
6. Mempelajari masalah yang dihadapi masyarakat pedesaan.

Sumber: Digital Books UG
NAMA : MOCHAMAD ZACKY MERDI
KELAS : 1KA31

NPM : 19110510

DOSEN : Asri Wulan

MATA KULIAH : Ilmu Sosial Dasar