Enjoy Reading

Kamis, 31 Maret 2011

Berbekal peta “Gementee Soerabaja” terbitan Boekhandel en Drukkerij 1940, saya menyusuri Oedjoeng. Sebuah daerah bantaran muara Kali Mas Surabaya yang dipenuhi gudang-gudang renta.
Pagi itu sebuah kapal roll on - roll off , atau lebih dikenal dengan istilah Ro-Ro, tengah mengangkat sauhnya dari dermaga bersiap menuju Madura. Langkah kaki saya berhenti di Rotterdam-Kade memandangi kantor pelabuhan yang sekaligus berfungsi sebagai menara suar. Saya kagum, bangunan ini turut menyaksikan Pertempuran Laut Jawa. Lamunan saya pun mengembara ke enam puluh sembilan tahun lalu.
Laut Jawa memiliki kisahnya sendiri. Sebelum perang dunia berakhir telah tercatat tiga invasi militer terbesar dalam sejarah yang melintasi Laut Jawa. Tak hanya dari sisi besaran armada, invasi tersebut juga berdampak merubah tatanan dan sejarah Tanah Jawa.
Kisah pertama tentang Laut Jawa mungkin masih kita ingat ketika invasi militer Jepang 1942 dalam perintah Laksamana Takagi Takeo. Setelah serangan ke Filipina, Tarakan, dan Selat Makassar, militer Jepang menghadapi serangan penentuan di Laut Jawa pada 27-28 Februari 1942 yang dikenal dengan “Pertempuran Laut Jawa”. Alhasil, dalam pertempuran dengan kekuatan tak sebanding itu militer Jepang tidak mengalami kesulitan berarti dan mendarat dengan mudah di pantai Kragan, dekat Rembang 1 Maret 1942. Kampanye berikutnya, Jepang mampu meruntuhkan emperium Hindia Belanda yang dibangun ratusan tahun hanya dalam waktu delapan hari!
Invasi militer Tentara Kerajaan Inggris di bawah komando Letnan Jenderal Sir Samuel Auchmuty pada 1811 menjadi kisah legenda berikutnya. Misi utama Inggris adalah menghilangkan otoritas pengaruh Perancis di Lautan Timur yang mencakup wilayah Asia Pasifik. Setidaknya 100 kapal yang mengangkut 12.000 orang! Jumlah yang tiada banding hingga Perang Dunia Kedua. Mereka berhasil merapat dan memulai invasi militer mereka dari Cilincing. Hasilnya, Inggris secara resmi menduduki Jawa pada 1812-1816. Untuk alasan ini, Gubernur Jenderal Lord Minto mempromosikan Sir Thomas Stamford Raffles sebagai Letnan Gubernur Jawa, menetap di Buitenzorg, kini Bogor.
Jauh sebelum pasukan Auchmuty menjejakkan kakinya di Jawa, invasi militer Kubilai Khan telah merambah pedalaman Jawa. Khan adalah seorang penguasa Mongol terkemuka abad ke-13, pendiri Dinasti Yuan. Armada cucu Genghis Khan itu mendarat di pantai Rembang 1293. Invasi mereka telah berdampak secara tidak langsung terhadap tahta baru Kerajaan Majapahit. Kelak kerajaan ini akan menurunkan raja-raja Jawa yang juga akan mengubah sejarah di Tanah Jawa.
Photobucket
Monumen Karel Doorman di Ereveld Kembang Kuning - Surabaya
Terdapat tiga plat tembaga yang menampilkan Kapal De Zeven Provincien dalam pertempuran di Pantai Timur Inggris di bawah komando Michiels Adriaanszoon de Ruyter abad ke-17, plat kedua menampilkan profil Karel Doorman dengan semboyannya yang melegenda “”Aku serang sekarang, semua ikuti aku”, kemudian plat terakhir menampilkan Kapal Perang De Ruyter yang dikomandoi Karel Doorman dan tenggelam di Pertempuran Laut Jawa.
Photobucket
Para Korban Pertempuran Laut Jawa
Di balik Monumen Karel Doorman terdapat nama-nama korban Pertempuran Laut Jawa enam puluh sembilan tahun silam.
Dari ketiga ekspedisi militer yang melintasi Laut Jawa, menurut saya Pertempuran Laut Jawa-lah yang memiliki cakupan serangan luas, hampir seribu orang kehilangan hidup mereka di pertempuran dua malam yang dimenangkan oleh Jepang itu. Untuk mengenang mereka yang binasa saat penentuan nasib terakhir Hindia Belanda di Laut Jawa, Kerajaan Belanda mendirikan sebuah monumen di Ereveld Kembang Kuning Surabaya, sebuah taman makam kehormatan bagi korban perang yang dikelola Oorlogsgravenstichting. Monumen yang diresmikan pada 7 Mei 1954 itu mengabadikan nama seorang Laksamana Muda yang turut melegenda di Pertempuran Laut Jawa, Karel Doorman.
Suara peluit kapal menyadarkan saya dari lamunan tentang kejadian silam di Laut Jawa yang melegenda. Saya bangkit dari tepi Rotterdam-Kade dan bergegas meninggalkan Oedjoeng yang semakin bising dengan para penumpang yang mengantri penyeberangan berikutnya.

Sumber : http://heritage.blog.nationalgeographic.co.id/2011/03/16/melegendanya-laut-jawa/
Nama : MOCHAMAD ZACKY MERDI
NPM : 19110510
Kelas : 1KA31

DAPATKAH Anda merasakan bahwa belakangan ini di Indonesia—bahkan mungkin di seluruh dunia—sedang terjadi pertumbuhan jumlah pengguna sepeda? Saya dapat. Setidaknya orang-orang terdekat dalam lingkungan pekerjaan dan sekitar rumah saya begitu menggandrungi sepeda dan secara rutin melakukan perjalanan bersepeda.
Meski belum ada data resmi soal jumlah pengguna sepeda reguler di Tanah Air, fenomena yang terjadi setidaknya 2-3 tahun terakhir menunjukkan booming sepeda.
Surat kabar terbesar Indonesia, Kompas, juga memotret momentum ini dan menjadikannya tema utama ulang tahun mereka yang ke-45 tahun lalu. Kelompok Kompas-Gramedia bahkan memiliki klub bersepeda beranggotakan lebih dari seratus orang, dan cukup aktif menyelenggarakan acara bersepeda.
Data Earth Policy Institute menyebut, produksi sepeda dunia sebesar 94 juta per tahun dalam kurun 1990-2002 telah meningkat menjadi 130 juta pada 2007, melampaui produksi mobil yang sebesar 70 juta. Di beberapa negara, pertumbuhan jumlah penjualan ini dibantu oleh anjuran pemerintahnya—disertai insentif menarik—untuk menggunakan sepeda. Contohnya, pada 2009 pemerintah Italia mulai meluncurkan serangkaian program insentif untuk mendorong pembelian sepeda untuk memperbaiki kualitas udara perkotaan dan mengurangi jumlah mobil di jalan, dengan memberikan potongan 30 persen dari setiap harga sepeda.
China juga menunjukkan peningkatan volume sepeda. Pada 2007, jumlahnya mencapai 90 juta, tetapi kini menyentuh 430 juta, meski tingkat kepemilikan rata-rata masih lebih tinggi di Eropa. Di Belanda, satu orang punya lebih dari satu sepeda, dan sebanyak 27 persen dari seluruh perjalanan menggunakan sepeda. Sementara Denmark dan Jerman mendekati satu sepeda per orang, dengan persentase perjalanan sepeda 18 persen (Denmark) dan 10 persen (Jerman).
Capaian-capaian tersebut tentu saja memiliki sebab-sebab. Belanda, Denmark, dan Jerman sebelumnya telah menyiapkan infrastruktur yang bersahabat terhadap para pesepeda: parkir khusus sepeda, integrasi penuh dengan transportasi umum, edukasi lalu lintas yang komprehensif dan pelatihan bagi pesepeda. Di sisi lain, hal ini pula yang membuat negara besar lain seperti Amerika Serikat dan Inggris memiliki tingkat pengguna sepeda yang rendah: karena minimnya “grand design” dan kebijakan untuk itu, meski mereka sepertinya juga sedang menuju ke sana.
Sebagai sebuah moda transportasi personal, sepeda memang cukup ideal. Apa lagi jika dikaitkan dengan isu lingkungan dan kesehatan. Bersepeda bisa memperbaiki sistem pernapasan, menurunkan polusi udara, mereduksi obesitas, meningkatkan kebugaran fisik. Sepeda juga tidak—secara langsung—mengemisikan karbon dioksida. Saya tulis “secara langsung” karena saya yakin sebenarnya pada tingkat tertentu proses produksi satu buah sepeda pasti memiliki jejak karbon sendiri. Satu hal yang paling penting kenapa sepeda menjadi begitu populer: secara umum harganya terjangkau oleh jutaan orang yang tidak sanggup membeli mobil.
Mengingat bentuknya yang ringkas (dan kini juga menjamur sepeda lipat yang bisa dibuat lebih ringkas lagi), enam sepeda bisa termuat dalam lajur jalan yang digunakan oleh satu mobil. Belum lagi untuk parkir: satu spasi parkir untuk satu mobil bisa digunakan untuk memarkir 20 sepeda. Efisiensi sepeda dalam hal emisi karbon sebagai substituen mobil untuk perjalanan pendek adalah akar pangkat tiga dibandingkan emisi dari mobil.
Membandingkan efisiensi sepeda dengan mobil mungkin terkesan tidak “apple-to-apple“. Akan tetapi, tidak bisa tidak, jika ingin meninjaunya dari sisi upaya penekanan jumlah emisi karbon atau okupasi lahan publik, pembandingan ini mestilah dilakukan.
Dan seperti yang sudah saya singgung di atas, efisiensi sepeda bukan hanya berefek pada lingkungan, melainkan juga kesehatan. Sepeda sangat ideal untuk mengembalikan keseimbangan asupan kalori dan pengeluaran rutin seseorang untuk biaya kesehatan: mengurangi penyakit-penyakit kardiovaskuler, osteoporosis, arthritis, dan memperkuat sistem kekebalan tubuh.
Jika negara-negara Eropa (dan China) sudah menyiapkan infrastruktur yang memadai untuk menyambut ledakan sepeda—dan ledakan pertumbuhan ekonomi baru—bagaimana dengan Indonesia?
Kita masih perlu berpikir dan bekerja keras bahkan hanya untuk memperbaiki sarana umum yang paling dasar: jalur pejalan kaki. Hampir seluruh trotoar ibu kota (kecuali jalur protokol Sudirman-Thamrin) sudah diokupasi oleh pedagang dan…motor. Di sebuah jalan utama di Jakarta Barat, trotoar bahkan diratakan untuk menjadi bagian dari lahan parkir sebuah restoran besar, membuat pejalan kaki mesti berhati-hati jika melintas di situ, atau terkena risiko terserempet mobil.
Artinya, terlepas dari menjamurnya pengguna sepeda, pemangku kebijakan sepertinya tidak bisa terburu-buru memenuhi kebutuhan pesepeda sebelum kebutuhan paling hakiki dari jalan, yakni trotoar, dibenahi.
Hal lain yang juga menjadi perhatian saya adalah menjaga paradigma bahwa sepeda adalah moda pengganti kendaraan bermotor. Artinya, penggunaan sepeda idealnya bersifat substitutif, bukan sekadar adisional. Memang, tidak dapat dimungkiri, lanskap dan tata kota di Jakarta kerap memaksa orang memiliki rumah yang jauh dari tempat bekerja, sehingga amatlah berat (walau bukan tidak mungkin) jika orang yang tinggal di Bekasi, misalnya, mesti menggunakan sepeda sehari-hari ke kantor di Kebon Jeruk.
Risiko dari menganggap sepeda sebatas pada moda adisional membuat upaya pengurangan emisi karbon seperti sia-sia, karena pada kenyataannya mereka masih bergantung pada mobil atau motornya untuk perjalanan sehari-hari. Lebih buruk lagi, seperti fenomena yang kerap saya amati, jika sepeda hanya berfungsi sebagai bagian dari tren dan gaya hidup sehingga para pesepeda lebih sering disibukkan oleh gonta-ganti aksesoris dan memikirkan rencana jalan-jalan.
 
Sumber : http://areahijau.blog.nationalgeographic.co.id/2011/01/sepeda-di-mana-mana/

Nama : MOCHAMAD ZACKY MERDI
NPM : 19110510
Kelas : 1KA31
 
 


Baterai Tenaga Air?
Peneliti dari Stanford mengembangkan baterai isi ulang yang menggunakan air tawar dan air laut untuk menghasilkan listrik.
Baterai memanfaatkan perbedaan kadar garam yang ada pada air tawar dan air laut untuk menciptakan arus listrik. Baterai terbuat dari dua elektroda, positif dan negatif, terendam dalam cairan berisi ion bermuatan listrik. Di air, ion tersebut adalah sodium dan klorin, komponen yang biasa didapati dalam garam dapur.
Daya baterai diisi ketika air tawar berada di dalam baterai. Arus listrik kecil dialirkan agar daya terisi. Setelah pengisian selesai, air tawar diganti dengan air laut yang memiliki kandungan ion 60 hingga 100 kali lipat. Kandungan ion itu meningkatkan tegangan listrik antara kedua elektroda. Hal itu membuat listrik yang dihasilkan lebih banyak dari biasanya.
"Tegangan listrik tergantung pada jumlah sodium dan ion," kata Yi Cui yang memimpin studi. Ia menambahkan, "Ketika daya diisi dengan tegangan rendah di air tawar, Anda menghemat energi. Ketika Anda menggunakannya dengan air laut, Anda memperoleh energi yang lebih banyak."
Ketika daya pada baterai habis, air laut diganti lagi dengan air tawar untuk pengisian ulang.
Penggunaan air tawar dan air laut yang dilakukan Cui ini bukan pertama kali. Metode yang sama pernah dibuat. Bedanya, metode tersebut menggunakan membran untuk menyalurkan ion. "Membran itu rapuh. Itu kelemahannya. Lagipula, metoda itu hanya mampu dipakai dengan 1 tipe ion, sementara baterai menggunakan sodium dan klorin," Cui menjelaskan.
Cui juga menemukan satu kelemahan pada sistem buatannya. Baterai buatannya menggunakan perak, yang harganya tinggi, sebagai elektroda negatif. Bagi Cui, tantangan bagi timnya adalah menemukan pengganti perak.
Dengan temuan ini, Cui dan timnya melihat potensi muara sebagai lokasi pembangunan pembangkit listrik. Disebutkan oleh Cui, pembangkit listrik tidak akan berpengaruh pada siklus lingkungan. Air sungai hanya akan disalurkan ke laut lewat pembangkit listrik. "Kami hanya pinjam dan akan kami kembalikan," kata Cui.
Air yang digunakan tidak harus air bersih. "Air limbah pun dapat digunakan," kata Cui.
Menurut perhitungan peneliti, pembangkit listrik dengan 50 kubik air atawar per detik dapat menghasilkan 100 megawatt. Jumlah yang cukup untuk menyediakan listrik 100.000 rumah. (Sumber: Stanford University)

Sumber : lintasberita.com

Nama : MOCHAMAD ZACKY MERDI
NPM : 19110510
Kelas : 1KA31
Selagi menjadi mahasiswa, banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menyalurkan bakat dan minat. Sebagian mahasiswa melakukannya dengan aktif mengikuti kegiatan kesenian sekaligus berpartisipasi melestarikan budaya bangsa.
Budaya tradisional harus dijaga. Sebagai generasi muda, wajib hukumnya menjaga warisan budaya bangsa. Apa lagi yang bisa kita lakukan melihat pengklaiman budaya bangsa oleh negeri lain, kalau bukan menjaganya? Dengan mengikuti berbagai kegiatan kemahasiswaan bidang seni budaya, kita turut menjaga kelestariannya.
Mahasiswi jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (PMIPA), Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, Francisca Romana Mia, mengungkapkan, sejak semester pertama ia ikut unit kegiatan mahasiswa (UKM) Karawitan.
”Berawal saat saya masih siswa SMP, melihat kakak-kakak di Muda Mudi Katolik (Mudika) menabuh gamelan di sebuah acara. Senang melihat mereka, saya jadi ingin belajar juga,” ungkap Mia.
Di kampus, Mia langsung mendaftar di UKM Karawitan USD dan belajar menabuh gamelan dari nol. ”Susah-susah gampang, apalagi alat gamelan di kampus jumlahnya terbatas, kami harus mengantre. Tak setiap latihan, kami bisa memegang alat,” katanya.
Di tempat Mia berlatih, ada dua set gamelan, gamelan laras slendro dan laras pelog. Mia dan teman-teman harus bisa memegang semua alat gamelan, seperti bonang, peking, dan dengung.
Tak ada darah seni di keluarga Mia, tapi dia tekun belajar karawitan di kampus. Mahasiswi semester enam ini sedang berlatih gamelan untuk acara wisuda di kampus.
”Biasanya kalau sedang dibuka pendaftaran untuk bergabung UKM Karawitan, banyak mahasiswa mendaftar, bisa sampai 200 orang. Tiba saat latihan, cuma sedikit yang datang. Apalagi kalau tahu tak bisa langsung memegang alat, mereka suka malas datang,” ceritanya.
Mahasiswa dilibatkan
Mahasiswi Pendidikan Bahasa Inggris, FKIP Universitas Sebelas Maret, Surakarta, Irene Mutiara, mengatakan, setiap tahun Pemerintah Kota Solo menggelar Solo Batik Carnival dan Solo International Performing Art. Pada dua acara itu banyak mahasiswa yang dilibatkan sebagai panitia pelaksana dan pengisi acara.
”Bergabung dalam dua acara itu juga bentuk apresiasi dan sumbangsih mahasiswa untuk melestarikan seni budaya bangsa. Tak bisa menari atau menabuh gamelan bukan lagi alasan untuk tidak peduli pada seni budaya daerah,” tandasnya.
Ada juga generasi muda yang melestarikan seni budaya dengan memilih belajar secara formal. Salah satunya mahasiswi Jurusan Sastra Jawa, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, Patrisia Devitasari. Ia mengatakan, salah satu yang memotivasi dirinya memilih belajar Sastra Jawa karena banyak generasi muda yang memilih belajar budaya asing.
”Di Sastra Jawa, selain mempelajari bahasa dan aksara Jawa, saya juga belajar mengenal wayang, batik, dan bermain gamelan. Walau orang memandang itu kuno, tetapi buat saya itu keren. Jarang, lho, orang bisa membaca teks kuno beraksara Jawa,” katanya.
Menurut dia, untuk menghargai budaya sendiri tidak susah, cukup mempelajari salah satu budaya Indonesia dengan serius. ”Banyak orang yang sanksi terhadap masa depan mahasiswa yang belajar di jurusan astra daerah dibandingkan mahasiswa yang belajar di sastra lainnya. Buat saya, panggilan hati untuk mempelajari budaya sendiri lebih penting ketimbang masa depan atau pekerjaan. Saya merasa bertanggung jawab pada budaya sendiri,” ujarnya.
Menjadi pelatih
Cinta terhadap seni budaya Indonesia juga ditunjukkan Aryarangga Ramadhika, lulusan jurusan Administrasi Niaga, Universitas Atma Jaya, Jakarta. Meski sudah lulus, Arya tetap aktif di UKM Karawitan Jawi kampusnya.
Arya bergabung dengan UKM Karawitan sejak semester tiga, sekitar tahun 2004. ”Pelatih karawitan biasanya hadir hanya untuk mengajar senior dan saat ada acara di mana kami harus belajar lagu baru. Ini membuat kami belajar sesuatu yang baru, selain kami pun mesti bisa melatih anggota baru,” katanya.
Dengan cara seperti itu, di UKM Karawitan, anggotanya tak hanya belajar memainkan alat gamelan, tapi juga dikondisikan bisa melatih anggota baru dengan alat gamelan masing-masing. ”Misalnya, siapa anak bonang, nah dialah yang akan mengajarkan teman baru berlatih memainkan bonang,” ujarnya.
Seperti UKM lain yang sepi peminat, Arya mengungkapkan anggota UKM Karawitan juga datang dan pergi. ”Pasang surut anggota saat latihan menjadi kendala tersendiri, apalagi tempat latihan kami cukup mungil untuk satu set alat gamelan. Jadi, kami sadar ’hukum rimba’ pasti berlaku. Bagi yang benar-benar tertarik biasanya bertahan, tapi mahasiswa yang minatnya setengah-setengah akan ’hilang’ sendiri,” katanya.
Sebagai pelatih, Arya juga melakukan berbagai hal supaya suasana latihan menyenangkan. ”Untuk menghindari kejenuhan, kami merotasi anggota baru dalam memainkan alat. Jadi, suasana latihan tak monoton, anggota juga berkembang kemampuannya,” ungkap Arya.
Banyak pilihan
Sebenarnya, sebagian kampus di Tanah Air telah menyediakan banyak pilihan kegiatan berkaitan dengan seni budaya yang bisa diikuti mahasiswa. Misalnya, Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti di Jakarta yang menawarkan dua kegiatan kesenian seperti tari tradisional dan kolintang.
Universitas Indonesia juga memiliki UKM Tari. Di sini mahasiswa bisa belajar tari-tarian dari sejumlah daerah, mulai dari Nanggroe Aceh Darussalam, seperti tari saman, sampai tari-tarian dari Sumatera Barat dan Bali.
Institut Teknologi Bandung juga mempunyai berbagai kegiatan dalam wadah UKM Kesenian. Mahasiswa bisa belajar mulai dari kesenian Sunda sampai kesenian Minangkabau. Sementara Universitas Padjajaran, Bandung, antara lain mempunyai kelompok degung Sunda.
   Ketika fasilitas yang berkaitan dengan seni budaya bangsa sudah tersedia di kampus, sesungguhnya tidak ada lagi alasan bagi generasi muda untuk tak memedulikannya. Tinggal kesadaran mahasiswa untuk menjaga dan turut aktif melestarikan seni budaya bangsa.
Banyak cara bisa kita tempuh, mulai dari belajar aktif menari lalu menyebarluaskannya, sampai mempelajari dan menerapkan nilai-nilai kearifan lokal dalam kehidupan sehari-hari. Di sini kemauan kuat dan kesungguhan mahasiswa sebagai generasi muda benar-benar diutamakan.
Untuk merawat seni budaya bangsa, relatif tidak diperlukan modal materi yang besar. Kreativitas, kesungguhan, dan kesadaran bahwa seni budaya itu menjadi bagian dari jati diri kita menjadi modal utamanya.

Sumber : Kompas.com

Nama : MOCHAMAD ZACKY MERDI
NPM : 19110510
Kelas : 1KA31

Minggu, 13 Maret 2011

Pendidikan, Inti Pelestarian Warisan Budaya
           Sebagai negara dengan tingkat keanekaragaman budaya yang sangat luas, Indonesia berkepentingan terhadap Warisan Budaya Tak Benda (Intangible Cultural Heritage) di tingkat internasional. Pemerintah Indonesia meratifikasi Konvensi Intangible Cultural Heritage (ICH) melalui Peraturan Presiden No 78 Tahun 2007 tentang Pengesahan Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (WBTB).

Di tingkat nasional, kepentingan melindungi WBTB tadi sungguh besar mengingat nilai-nilai budaya barat begitu memborgol masyarakat kita. Bicara soal perlindungan WBTB, demikian menurut Kepala Biro Kerja Sama Luar Negeri Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Basuki Antariksa, tentu sangat tak menarik karena bicara perlindungan WBTB artinya bicara cost alias pengeluaran uang dan tak kecil, pula.

"Jika kebudayaan dinilai dari aspek ekonomi tentu potensi terbesar akan berasal dari Warisan Budaya Benda (Tangible Cultural Heritage) seperti candi atau benda purbakala lainnya. Banyak orang lupa, Intangible Heritage, dapat memberi kontribusi tak langsung yaitu membentuk mental bangsa," paparnya dalam "Simposium dan Workshop Mengenai Inventarisasi dalam Rangka Perlindungan WBTB" di Hotel Alila, Pecenongan, Jakpus.
Basuki menambahkan, tugas pelestarian WBTB adalah tugas berat karena harus ditujukan untuk menjamin keberlangsungan dan perkembangannya secara mandiri melalui media pendidikan formal dan non-formal.
Sebagai informasi, UNESCO mendefinisikan WBTB sebagai "segala praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, ketrampilan - serta instrumen, obyek, artefak, dan lingkungan budaya yang terkait - yang oleh masyarakat, kelompok, dan dalam beberapa hal tertentu, perorangan yang diakui sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Konvensi ICH menyatakan, WBTB diwujudkan antara lain dalam bidang tradisi dan ekspresi lisan termasuk bahasa; seni pertunjukan; adat istiadat, ritus, dan perayaan; pengetahuan dan kebiasaan perilaku; dan kemahiran kerajinan tradisional.

Sayangnya, dalam simposium yang seharusnya sangat lekat dengan bidang pendidikan, tak ada satupun wakil dari Departemen Pendidikan Nasional. Padahal, jelas-jelas disebutkan Basuki, upaya pelestarian WBTB tak bisa lepas dari proses pendidikan formal dan non-formal. Sesungguhnyalah, persoalan warisan budaya baik benda dan tak benda adalah persoalan pendidikan. Bukan hanya membentuk karakter dan mental tapi juga untuk menginformasikan kepada masyarakat hingga ke pelosok bahwa apa yang selama ini mereka jalankan sebagai ritual, kebiasaan, cara pandang, kemampuan membuat kerajinan atau mencampur bumbu sehingga membentuk rasa yang unik adalah warisan yang harus dilestarikan.
Budaya Sunda Jangan Sampai Tinggal Dongeng
Kesenian Sunda. “Konon di Jabar ada sekitar 300 kesenian, tapi sekarang hanya ada sekitar 30 kesenian. Pertanyaannya adalah ke mana yang 270 lainnya itu?”
Kekhawatiran dan semangat untuk menghidupkan kembali budaya sunda tampaknya mendasari diselenggarakannya seminar internasional yang bertemakan tentang “Reformulasi dan Transformasi Kebudayaan Sunda” pada 9-10 Februari 2011 lalu. Di dalam seminar tersebut Prof Dadang mengatakan, “Tampaknya kalau bahasa Sunda sering ditampilkan di wilayah akademik, orang bisa semakin lacar berbahasa Sunda dan kemudian kesundaan bisa mendunia.”
Perlu dicatat, semua sambutan dalam seminar tersebut disampaikan dalam bahasa Sunda. Begitu pula dengan abstrak pemateri yang nantinya akan menyajikan materi mereka, semua ditulis dalam bahasa Sunda. Prof. Dadang sendiri menyoroti tentang wacana pengesahan undang-undang kebudayaan yang sudah mulai dirancang 2001 silam, dalam kaitannya dengan kebudayaan Sunda. Menurutnya, pengesahan UU kebudayaan jika memang akan terjadi, perlu disikapi dengan cermat. Di satu sisi itu wujud perhatian pada kebudayaan. “Jika ada aturannya, maka berbagai bentuk pelanggaran biasanya dikenai sanksi demi keberlangsungan budaya,” sebutnya.
Namun di lain pihak, ia mengatakan bahwa perlu diwaspadai agar pengaturan kebudayaan kelak tidak akan membuat independensi perkembangan budaya hilang sama sekali. Lalu jika memang UU Kebudayaan akan disahkan, tentu perlu dirumuskan pula variabel-variabel yang ada dalam kebudayaan. Atas dasar ini pula perlu dirumuskan ciri-ciri yang bisa mereflesikan orang Sunda dan kebudayaan Sunda secara umum.
Selain Prof. Dadang, hadir pula Prof. Dr. Bambang Purwanto dan Dr. Sarah Anais Andries sebagai pembicara utama dalam seminar Rabu ini. Prof. Bambang berbicara tentang visual masa lalu dan tradisi histografis di tatar Sunda. Sementara itu, Dr. Sarah berbicara tentang nilai-nilai wayang golek purwa Sunda.
Setelah pemaparan materi dari para pemateri utama, acara dilanjutkan dengan presentasi dari para pemakalah yang tersebar di 4 kelas paralel di PSBJ dan Ruang Sidang Pasca Sarjana Fasa Unpad. Sore ini, seminar ditutup dengan penyampaian materi dari tiga orang pembicara utama lainnya, yakni Prof. Dr. Hj. Nina H. Lubis, Prof. Dr. Setiawan Sabana, dan Prof. Madya. Dr. Rahim bin Aman.
Gelar Budaya Sunda
Masih di lingkungan Fasa Unpad dimana tempat di selenggarakannya Gelar Budaya Sunda. Para pengunjung bisa menikmati sajian menarik dari kesenian tradisi Sunda. Materi kesenian yang ditampilkan adalah Seni Buhun Pakidulan Tasikmalaya bagian selatan dan seni bambu kontemporer.
Di antara seni buhun yang dipertontonkan adalah aseuk hatong, calung renteng, rengkong, tutunggulan, dan kunclung. Semua kesenian tersebut awalnya berasal dari tradisi bercocok tanam. Maka tak heran jika dalam pertunjukkan budaya sunda itu dengan iringan musik tradisional, terdapat sejumlah pria yang memanggul padi, menirukan gerakan melubangi tanah, dan ibu-ibu memukul-mukul halu, dan seterusnya.
Sumber : Kompas dan Data Pribadi.

Nama : Mochamad Zacky Merdi
NPM : 19110510
Kelas : 1KA31

Selasa, 11 Januari 2011

A. Pengertian Agama Dan Masyarakat

Masyarakat adalah suatu sistem sosial yang menghasilkan kebudayaan (Soerjono Soekanto, 1983). Sedangkan agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem atau prinsip kepercayaan kepada Tuhan, atau juga disebut dengan nama Dewa atau nama lainnya dengan ajaran kebaktian dan kewajiban-kewajiban yang berkaitan dengan kepercayaan tersebut. Sedangkan Agama di Indonesia memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat. Hal ini dinyatakan dalam ideologi bangsa Indonesia, Pancasila: “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Sejumlah agama di Indonesia berpengaruh secara kolektif terhadap politik, ekonomi dan budaya. Di tahun 2000, kira-kira 86,1% dari 240.271.522 penduduk Indonesia adalah pemeluk Islam, 5,7% Protestan, 3% Katolik, 1,8% Hindu, dan 3,4% kepercayaan lainnya.

Dalam UUD 1945 dinyatakan bahwa “tiap-tiap penduduk diberikan kebebasan untuk memilih dan mempraktikkan kepercayaannya” dan “menjamin semuanya akan kebebasan untuk menyembah, menurut agama atau kepercayaannya”. Pemerintah, bagaimanapun, secara resmi hanya mengakui enam agama, yakni Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Buddha dan Konghucu.

Dengan banyaknya agama maupun aliran kepercayaan yang ada di Indonesia, konflik antar agama sering kali tidak terelakkan. Lebih dari itu, kepemimpinan politis Indonesia memainkan peranan penting dalam hubungan antar kelompok maupun golongan. Program transmigrasi secara tidak langsung telah menyebabkan sejumlah konflik di wilayah timur Indonesia.

Berdasar sejarah, kaum pendatang telah menjadi pendorong utama keanekaragaman agama dan kultur di dalam negeri dengan pendatang dari India, Tiongkok, Portugal, Arab, dan Belanda. Bagaimanapun, hal ini sudah berubah sejak beberapa perubahan telah dibuat untuk menyesuaikan kultur di Indonesia.
Berdasarkan Penjelasan Atas Penetapan Presiden No 1 Tahun 1965 Tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama pasal 1, “Agama-agama yang dipeluk oleh penduduk di Indonesia ialah Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Khong Hu Cu (Confusius)”.
  • Islam : Indonesia merupakan negara dengan penduduk Muslim terbanyak di dunia, dengan 88% dari jumlah penduduk adalah penganut ajaran Islam. Mayoritas Muslim dapat dijumpai di wilayah barat Indonesia seperti di Jawa dan Sumatera. Masuknya agama islam ke Indonesia melalui perdagangan.
  • Hindu : Kebudayaan dan agama Hindu tiba di Indonesia pada abad pertama Masehi, bersamaan waktunya dengan kedatangan agama Buddha, yang kemudian menghasilkan sejumlah kerajaan Hindu-Buddha seperti Kutai, Mataram dan Majapahit.
  • Budha : Buddha merupakan agama tertua kedua di Indonesia, tiba pada sekitar abad keenam masehi. Sejarah Buddha di Indonesia berhubungan erat dengan sejarah Hindu.
  • Kristen Katolik : Agama Katolik untuk pertama kalinya masuk ke Indonesia pada bagian pertama abad ketujuh di Sumatera Utara. Dan pada abad ke-14 dan ke-15 telah ada umat Katolik di Sumatera Selatan. Kristen Katolik tiba di Indonesia saat kedatangan bangsa Portugis, yang kemudian diikuti bangsa Spanyol yang berdagang rempah-rempah.
  • Kristen Protestan : Kristen Protestan berkembang di Indonesia selama masa kolonial Belanda (VOC), pada sekitar abad ke-16. Kebijakan VOC yang mengutuk paham Katolik dengan sukses berhasil meningkatkan jumlah penganut paham Protestan di Indonesia. Agama ini berkembang dengan sangat pesat di abad ke-20, yang ditandai oleh kedatangan para misionaris dari Eopa ke beberapa wilayah di Indonesia, seperti di wilayah barat Papua dan lebih sedikit di kepulauan Sunda.
  • Konghucu : Agama Konghucu berasal dari Cina daratan dan yang dibawa oleh para pedagang Tionghoa dan imigran. Diperkirakan pada abad ketiga Masehi, orang Tionghoa tiba di kepulauan Nusantara. Berbeda dengan agama yang lain, Konghucu lebih menitik beratkan pada kepercayaan dan praktik yang individual. 

B. Fungsi Agama

Agama bukanlah suatu entitas independen yang berdiri sendiri. Agama terdiri dari berbagai dimensi yang merupakan satu kesatuan. Masing-masingnya tidak dapat berdiri tanpa yang lain. seorang ilmuwan barat menguraikan agama ke dalam lima dimensi komitmen. Seseorang kemudian dapat diklasifikasikan menjadi seorang penganut agama tertentu dengan adanya perilaku dan keyakinan yang merupakan wujud komitmennya. Ketidakutuhan seseorang dalam menjalankan lima dimensi komitmen ini menjadikannya religiusitasnya tidak dapat diakui secara utuh. Kelimanya terdiri dari perbuatan, perkataan, keyakinan, dan sikap yang melambangkan (lambang=simbol) kepatuhan (=komitmen) pada ajaran agama. Agama mengajarkan tentang apa yang benar dan yang salah, serta apa yang baik dan yang buruk.

Agama berasal dari Supra Ultimate Being, bukan dari kebudayaan yang diciptakan oleh seorang atau sejumlah orang. Agama yang benar tidak dirumuskan oleh manusia. Manusia hanya dapat merumuskan kebajikan atau kebijakan, bukan kebenaran. Kebenaran hanyalah berasal dari yang benar yang mengetahui segala sesuatu yang tercipta, yaitu Sang Pencipta itu sendiri. Dan apa yang ada dalam agama selalu berujung pada tujuan yang ideal. Ajaran agama berhulu pada kebenaran dan bermuara pada keselamatan. Ajaran yang ada dalam agama memuat berbagai hal yang harus dilakukan oleh manusia dan tentang hal-hal yang harus dihindarkan. Kepatuhan pada ajaran agama ini akan menghasilkan kondisi ideal.

Mengapa ada yang Takut pada Agama?

Mereka yang sekuler berusaha untuk memisahkan agama dari kehidupan sehari-hari. Mereka yang marxis sama sekali melarang agama. Mengapa mereka melakukan hal-hal tersebut? Kemungkinan besarnya adalah karena kebanyakan dari mereka sama sekali kehilangan petunjuk tentang tuntunan apa yang datang dari Tuhan. Entah mereka dibutakan oleh minimnya informasi yang mereka dapatkan, atau mereka memang menutup diri dari segala hal yang berhubungan dengan Tuhan.

Alasan yang seringkali mereka kemukakan adalah agama memicu perbedaan. Perbedaan tersebut menimbulkan konflik. Mereka memiliki orientasi yang terlalu besar pada pemenuhan kebutuhan untuk bersenang-senang, sehingga mereka tidak mau mematuhi ajaran agama yang melarang mereka melakukan hal yang menurutnya menghalangi kesenangan mereka, dan mereka merasionalisasikan perbuatan irasional mereka itu dengan justifikasi sosial-intelektual. Mereka menganggap segi intelektual ataupun sosial memiliki nilai keberhargaan yang lebih. Akibatnya, mereka menutup indera penangkap informasi yang mereka miliki dan hanya mengandalkan intelektualitas yang serba terbatas.

Mereka memahami dunia dalam batas rasio saja. Logika yang mereka miliki begitu terbatasnya, hingga abstraksi realita yang bersifat supra-rasional tidak mereka akui. Dan hasilnya, mereka terpenjara dalam realitas yang serba empiri. Semua harus terukur dan terhitung. Walaupun mereka sampai sekarang masih belum memahami banyaknya fungsi alam yang bekerja dalam mekanisme supra rasional, keterbatasan kerangka berpikir yang mereka miliki menegasikan semua hal yang tidak dapat ditangkap secara inderawi.
Padahal, pembatasan diri dalam realita yang hanya bersifat empiri hanya akan membatasi potensi manusia itu sendiri. Dan hal ini menegasikan tujuan hidup yang selama ini diagungkan para penganut realita rasio-saja, yaitu aktualisasi diri dan segala potensinya.

Agama, dengan sandaran yang kuat pada realitas supra rasional, membebaskan manusia untuk mengambil segala hal yang terbaik yang dapat dihasilkannya dalam hidup. Semua-apakah hal itu bersifat empiri-terukur, maupun yang belum dapat diukur. Empirisme bukanlah suatu hal yang ditolak agama. Agama yang benar, yang bersifat universal, mencakup segi intelektual yang luas, yang diantaranya adalah empirisme. Agama tidak mereduksi intelektualitas manusia dengan membatasi kuantitas maupun kualitas suatu idea. Agama yang benar, memberi petunjuk pada manusia tentang bagaimana potensi manusia dapat dikembangkan dengan sebesar-besarnya. Dan sejarah telah membuktikan hal tersebut. Kesalahan yang dibuat para penilai agama-lah yang kemudian menyebabkan realita ajaran ideal ini menjadi terlihat buruk. Beberapa peristiwa sejarah yang menonjol mereka identikan sebagai kesalahan karena agama. Karena keyakinan pada ajaran agama. Padahal, kerusakan yang ditimbulkan adalah justru karena jauhnya orang dari ajaran agama. Kerusakan itu timbul saat agama-yang mengajarkan kemuliaan- disalahgunakan oleh manusia pelaksananya untuk mencapai tujuan yang terlepas dari ajaran agama itu sendiri, terlepas dari pelaksanaan keseluruhan dimensinya.

C. Pelembagaan Agama

Sebenarnya apa yang dimaksud dengan agama? Kami mengurapamakan sebagai sebuah telepon. Jika manusia adalah suatu pesawat telepon, maka agama adalah media perantara seperti kabel telepon untuk dapat menghubungkan pesawat telepon kita dengan Telkom atau dalam hal ini Tuhan. Lembaga agama adalah suatu organisasi, yang disahkan oleh pemerintah dan berjalan menurut keyakinan yang dianut oleh masing-masing agama. Penduduk Indonesia pada umumnya telah menjadi penganut formal salah satu dari lima agama resmi yang diakui pemerintah. Lembaga-lembaga keagamaan patut bersyukur atas kenyataan itu. Namun nampaknya belum bisa berbangga. Perpindahan penganut agama suku ke salah satu agama resmi itu banyak yang tidak murni.

Sejarah mencatat bahwa tidak jarang terjadi peralihan sebab terpaksa. Pemaksaan terjadi melalui “perselingkuhan” antara lembaga agama dengan lembaga kekuasaan. Keduanya mempunyai kepentingan. Pemerintah butuh ketentraman sedangkan lembaga agama membutuhkan penganut atau pengikut. Kerjasama (atau lebih tepat disebut saling memanfaatkan) itu terjadi sejak dahulu kala. Para penyiar agama sering membonceng pada suatu kekuasaan (kebetulan menjadi penganut agama tersebut) yang mengadakan invansi ke daerah lain. Penduduk daerah atau negara yang baru ditaklukkan itu dipaksa (suka atau tidak suka) menjadi penganut agama penguasa baru.

Kasus-kasus itu tidak hanya terjadi di Indonesia atau Asia dan Afrika pada umumnya tetapi juga terjadi di Eropa pada saat agama monoteis mulai diperkenalkan. Di Indonesia “tradisi” saling memanfaatkan berlanjut pada zaman orde Baru.Pemerintah orde baru tidak mengenal penganut di luar lima agama resmi. Inilah pemaksaan tahap kedua. Penganut di luar lima agama resmi, termasuk penganut agama suku, terpaksa memilih salah satu dari lima agama resmi versi pemerintah. Namun ternyata masalah belum selesai. Kenyataannya banyak orang yang menjadi penganut suatu agama tetapi hanya sebagai formalitas belaka. Dampak keadaan demikian terhadap kehidupan keberagaan di Indonesia sangat besar. Para penganut yang formalitas itu, dalam kehidupan kesehariannya lebih banyak mempraktekkan ajaran agam suku, yang dianut sebelumnya, daripada agama barunya. Pra rohaniwan agama monoteis, umumnya mempunyai sikap bersebrangan dengan prak keagamaan demikian. Lagi pula pengangut agama suku umumnya telah dicap sebagai kekafiran. Berbagai cara telah dilakukan supaya praktek agama suku ditinggalkan, misalnya pemberlakukan siasat/disiplin gerejawi. Namun nampaknya tidak terlalu efektif. Upacara-upacara yang bernuansa agama suku bukannya semakin berkurang tetapi kelihatannya semakin marak di mana-mana terutama di desadesa.

Demi pariwisata yang mendatangkan banyak uang bagi para pelaku pariwisata, maka upacarav-upacara adat yang notabene adalah upacara agama suku mulai dihidupkan di daerah-daerah. Upacara-upacara agama sukuyang selama ini ditekan dan dimarjinalisasikan tumbuh sangat subur bagaikan tumbuhan yang mendapat siraman air dan pupuk yang segar. Anehnya sebab bukan hanya orang yang masih tinggal di kampung yang menyambut angin segar itu dengan antusias tetapi ternyata orang yang lama tinggal di kotapun menyambutnya dengan semangat membara. Bahkan di kota-kotapun sering ditemukan praktek hidup yang sebenarnya berakar dalam agama suku. Misalnya pemilihan hari-hari tertentu yang diklaim sebagai hari baik untuk melaksanakan suatu upacara. Hal ini semakin menarik sebab mereka itu pada umumnya merupakan pemeluk yang “ fanatik” dari salah satu agama monoteis bahkan pejabat atau pimpinan agama.

D. Agama, Konflik dan Masyarakat
Secara sosiologis, Masyarakat agama adalah suatu kenyataan bahwa kita adalah berbeda-beda, beragam dan plural dalam hal beragama. Ini adalah kenyataan sosial, sesuatu yang niscaya dan tidak dapat dipungkiri lagi. Dalam kenyataan sosial, kita telah memeluk agama yang berbeda-beda. Pengakuan terhadap adanya pluralisme agama secara sosiologis ini merupakan pluralisme yang paling sederhana, karena pengakuan ini tidak berarti mengizinkan pengakuan terhadap kebenaran teologi atau bahkan etika dari agama lain.

Sebagaimana yang dikemukakan oleh M. Rasjidi bahwa agama adalah masalah yang tidak dapat ditawar-tawar, apalagi berganti. Ia mengibaratkan agama bukan sebagai (seperti) rumah atau pakaian yang kalau perlu dapat diganti. Jika seseorang memeluk keyakinan, maka keyakinan itu tidak dapat pisah darinya. Berdasarkan keyakinan inilah, menurut Rasjidi, umat beragama sulit berbicara objektif dalam soal keagamaan, karena manusia dalam keadaan involved (terlibat). Sebagai seorang muslim misalnya, ia menyadari sepenuhnya bahwa ia involved (terlibat) dengan Islam. Namun, Rasjidi mengakui bahwa dalam kenyataan sejarah masyarakat adalah multi-complex yang mengandung religious pluralism, bermacam-macam agama. Hal ini adalah realitas, karena itu mau tidak mau kita harus menyesuaikan diri, dengan mengakui adanya religious pluralism dalam masyarakat Indonesia.

Banyak konflik yang terjadi di masyarakat Indonesia disebabkan oleh pertikaian karena agama. Contohnya tekanan terhadap kaum minoritas (kelompok agama tertentu yang dianggap sesat, seperti Ahmadiyah) memicu tindakan kekerasan yang bahkan dianggap melanggar Hak Asasi Manusia. Selain itu, tindakan kekerasan juga terjadi kepada perempuan, dengan menempatkan tubuh perempuan sebagai objek yang dianggap dapat merusak moral masyarakat. Kemudian juga terjadi kasus-kasus perusakan tempat ibadah atau demonstrasi menentang didirikannya sebuah rumah ibadah di beberapa tempat di Indonesia, yang mana tempat itu lebih didominasi oleh kelompok agama tertentu sehingga kelompok agama minoritas tidak mendapatkan hak.

Permasalah konflik dan tindakan kekerasan ini kemudian mengarah kepada pertanyaan mengenai kebebasan memeluk agama serta menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaan tersebut. Seperti yang kita ketahui bahwa dalam UUD 1945, pasal 29 Ayat 2, sudah jelas dinyatakan bahwa setiap warga negara memiliki hak yang sama dalam memeluk agama dan akan mendapat perlindungan dari negara.

Pada awal era Reformasi, lahir kebijakan nasional yang menjamin kebebasan beragama di Indonesia. Namun secara perlahan politik hukum kebijakan keagamaan di negeri ini mulai bergeser kepada ketentuan yang secara langsung membatasi kebebasan beragama. Kondisi ini kemudian menyebabkan terulangnya kondisi yang mendorong menguatnya pemanfaatan kebijakan-kebijakan keagamaan pada masa lampau yag secara substansial bertentangan dengan pasal HAM dan konstitusi di Indonesia.

Hal ini lah yang dilihat sebagai masalah dalam makalah ini, yaitu tentang konflik antar agama yang menyebabkan tindakan kekerasan terhadap kaum minoritas dan mengenai kebebasan memeluk agama dan beribadah dalam konteks relasi sosial antar agama. Penyusun mencoba memberikan analisa untuk menjawab masalah ini dilihat dari sudut pandang kerangka analisis sosiologis: teori konflik.

1. Konflik yang ada dalam Agama dan Masyarakat

Di beberapa wilayah, integritas masyarakat masih tertata dengan kokoh. Kerjasama dan toleransi antar agama terjalin dengan baik, didasarkan kepada rasa solidaritas, persaudaraan, kemanusiaan, kekeluargaan dan kebangsaan. Namun hal ini hanya sebagian kecil saja karena pada kenyataannya masih banyak terjadi konflik yang disebabkan berbagai faktor yang kemudian menyebabkan disintegrasi dalam masyarakat.

Banyak konflik yang terjadi di masyarakat Indonesia disebabkan oleh pertikaian karena agama. Contohnya tekanan terhadap kaum minoritas (kelompok agama tertentu yang dianggap sesat, seperti Ahmadiyah) memicu tindakan kekerasan yang bahkan dianggap melanggar Hak Asasi Manusia. Selain itu, tindakan kekerasan juga terjadi kepada perempuan, dengan menempatkan tubuh perempuan sebagai objek yang dianggap dapat merusak moral masyarakat. Kemudian juga terjadi kasus-kasus perusakan tempat ibadah atau demonstrasi menentang didirikannya sebuah rumah ibadah di beberapa tempat di Indonesia, yang mana tempat itu lebih didominasi oleh kelompok agama tertentu sehingga kelompok agama minoritas tidak mendapatkan hak.

Permasalah konflik dan tindakan kekerasan ini kemudian mengarah kepada pertanyaan mengenai kebebasan memeluk agama serta menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaan tersebut. Seperti yang kita ketahui bahwa dalam UUD 1945, pasal 29 Ayat 2, sudah jelas dinyatakan bahwa setiap warga negara memiliki hak yang sama dalam memeluk agama dan akan mendapat perlindungan dari negara.

Pada awal era Reformasi, lahir kebijakan nasional yang menjamin kebebasan beragama di Indonesia. Namun secara perlahan politik hukum kebijakan keagamaan di negeri ini mulai bergeser kepada ketentuan yang secara langsung membatasi kebebasan beragama. Kondisi ini kemudian menyebabkan terulangnya kondisi yang mendorong menguatnya pemanfaatan kebijakan-kebijakan keagamaan pada masa lampau yag secara substansial bertentangan dengan pasal HAM dan konstitusi di Indonesia.

Hal ini lah yang dilihat sebagai masalah dalam makalah ini, yaitu tentang konflik antar agama yang menyebabkan tindakan kekerasan terhadap kaum minoritas dan mengenai kebebasan memeluk agama dan beribadah dalam konteks relasi sosial antar agama. Penyusun mencoba memberikan analisa untuk menjawab masalah ini dilihat dari sudut pandang kerangka analisis sosiologis: teori konflik.

2. Faktor Penyebab Konflik

Perbedaan individu, yang meliputi perbedaan pendirian dan perasaan.
Setiap manusia adalah individu yang unik. Artinya, setiap orang memiliki pendirian dan perasaan yang berbeda-beda satu dengan lainnya. Perbedaan pendirian dan perasaan akan sesuatu hal atau lingkungan yang nyata ini dapat menjadi faktor penyebab konflik sosial, sebab dalam menjalani hubungan sosial, seseorang tidak selalu sejalan dengan kelompoknya. Misalnya, ketika berlangsung pentas musik di lingkungan pemukiman, tentu perasaan setiap warganya akan berbeda-beda. Ada yang merasa terganggu karena berisik, tetapi ada pula yang merasa terhibur.

Perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok. 
Manusia memiliki perasaan, pendirian maupun latar belakang kebudayaan yang berbeda. Oleh sebab itu, dalam waktu yang bersamaan, masing-masing orang atau kelompok memiliki kepentingan yang berbeda-beda. Kadang-kadang orang dapat melakukan hal yang sama, tetapi untuk tujuan yang berbeda-beda. Sebagai contoh, misalnya perbedaan kepentingan dalam hal pemanfaatan hutan. Para tokoh masyarakat menanggap hutan sebagai kekayaan budaya yang menjadi bagian dari kebudayaan mereka sehingga harus dijaga dan tidak boleh ditebang. Para petani menbang pohon-pohon karena dianggap sebagai penghalang bagi mereka untuk membuat kebun atau ladang. Bagi para pengusaha kayu, pohon-pohon ditebang dan kemudian kayunya diekspor guna mendapatkan uang dan membuka pekerjaan. Sedangkan bagi pecinta lingkungan, hutan adalah bagian dari lingkungan sehingga harus dilestarikan. 
Di sini jelas terlihat ada perbedaan kepentingan antara satu kelompok dengan kelompok lainnya sehingga akan mendatangkan konflik sosial di masyarakat. Konflik akibat perbedaan kepentingan ini dapat pula menyangkut bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Begitu pula dapat terjadi antar kelompok atau antara kelompok dengan individu, misalnya konflik antara kelompok buruh dengan pengusaha yang terjadi karena perbedaan kepentingan di antara keduanya. Para buruh menginginkan upah yang memadai, sedangkan pengusaha menginginkan pendapatan yang besar untuk dinikmati sendiri dan memperbesar bidang serta volume usaha mereka.
Sumber : Wikipedia, google dan data pribadi
Nama  : MOCHAMAD ZACKY MERDI
NPM  : 19110510
Kelas  : 1KA31
Dosen  : Asri Wulan
Mata Kuliah : Ilmu Sosial Dasar

Selasa, 14 Desember 2010


WikiLeaks-pictures
Saya, Aom positif bahwa Anda mendengar semua tentang insiden baru-baru ini dengan WikiLeaks yang dirilis beberapa dokumen rahasia dari Departemen Luar Negeri kepada publik. Tampaknya orang dari WikiLeaks berada dalam banyak masalah karena itu, tapi itu, AOS tidak masalah di sini. Seperti yang Anda tahu, WikiLeaks dalam organisasi non-profit, tapi setelah kejadian ini, WikiLeaks yakin memang terlihat seperti semacam rahasia, organisasi jahat. Dan apa yang akan organisasi kejahatan tanpa tempat persembunyian yang super-rahasia? Hari ini kita, Äôre akan menunjukkan kepada Anda bagaimana sebuah tempat persembunyian dari WikiLeaks tampak seperti, dan kita hanya bisa mengatakan bahwa hal itu, AOS baik super dan rahasia.

Seperti yang anda ketahui, WikiLeaks terletak di Stockholm, Swedia, dan mereka saat ini berada di data center Pionen. Ini mungkin bukan pusat data standar seperti yang Anda harapkan karena yang satu ini terletak di dalam sebuah bunker. Itu benar, AOS, dan bunker ini terletak 30m bawah tanah di bawah taman Stockholm. Tapi itu, AOS tidak semua, ini bunker rahasia dibuat selama Perang Dingin dan dapat bertahan serangan nuklir dengan mudah. Tentu saja, awak WikiLeaks memiliki segala yang mereka butuhkan di dalam, seperti dua mesin diesel yang memberikan catu daya cadangan dari 1,5 megawatt. Itu, AOS tidak semua, pintu untuk bunker ini 40cm tebal sehingga mereka bisa mempertahankan banyak kerusakan. Di dalam, bunker ini terlihat cukup mengesankan dan memiliki lampu siang hari dan bahkan tanaman dan air terjun buatan, dan bahkan akuarium dengan ikan.

Bunker ini seluruh memakan waktu sampai 1 ribu mil persegi, dan kita hanya bisa mengatakan bahwa orang-orang dari WikiLeaks memiliki salah satu dari markas super-rahasia terbaik yang kita, Äôve pernah dilihat. 

Berapa banyak situs web memiliki kantor pusat yang dapat mempertahankan serangan nuklir? Hanya WikiLeaks, dan ini merupakan alasan utama bagi Anda untuk memeriksa foto-foto menakjubkan dari itu.
Menakjubkan ini gambar mana yang diambil oleh fotografer Swedia Jann Lipka dan nnm.ru

WikiLeaks-pictures-1
WikiLeaks-pictures-2
WikiLeaks-pictures-3
WikiLeaks-pictures-4
WikiLeaks-pictures-5
WikiLeaks-pictures-6
WikiLeaks-pictures-7
WikiLeaks-pictures-8
WikiLeaks-pictures-9
WikiLeaks-pictures-10
WikiLeaks-pictures-11
WikiLeaks-pictures-12
WikiLeaks-pictures-13
WikiLeaks-pictures-14
WikiLeaks-pictures-15
WikiLeaks-pictures-16
WikiLeaks-pictures-17
WikiLeaks-pictures-18
WikiLeaks-pictures-19
WikiLeaks-pictures-20

Senin, 29 November 2010

 
 
 
JAKARTA, KOMPAS.com — Kelihatannya latah seperti perusahaan internet lainnya, Facebook pun meluncurkan e-mail buat penggunanya. Setiap pengguna bakal bisa punya alamat di @facebook.com. Namun, bukan sekadar e-mail yang dirancang Facebook.

Pendiri Facebook Mark Zuckerberg bahkan mengatakan, e-mail akan bernasib seperti surat karena terlalu lambat dan informal. Zuckerberg (26) mengemukakan hal itu saat meluncurkan layanan messaging terbaru dari Facebook. Layanan baru tersebut mengintegrasikan semua komunikasi berbasis teks dan komunikasi web serta bekerja secara seketika (real time).
"Kami berpikir sistem pesan modern nantinya bukan e-mail," kata Zuckerberg dalam jumpa pers di San Francisco, Senin (15/11/2010). "Kami ingin agar orang bisa berkomunikasi sesuai pilihan mereka, baik e-mail, teks, atau pesan Facebook."

Zuckerberg mengakui bahwa 500 juta pengguna Facebook akan punya akses ke alamat e-mail Facebook.com. Semua percakapan selama bertahun-tahun ke belakang akan disimpan ke akun pengguna. "Benar bahwa orang akan punya alamat e-mail di Facebook.com, tapi ini bukan e-mail. E-mail cuma salah satu cara menggunakan sistem ini, tetapi kami pikir e-mail tak akan jadi cara utama."

Sistem messaging Facebook adalah model pesan seketika dan chat online. Teks, e-mail atau pesan seketika akan masuk ke satu feed, lalu pengguna bisa membalas sesuai pilihannya. Misalnya, seseorang mengirim SMS kepada temannya. Si teman akan langsung melihat pesan muncul di Facebook-nya dan dia bisa memilih untuk membalas lewat pesan seketika atau e-mail.

Zuckerberg mengatakan, dia mengubah Facebook karena kaum muda menilai e-mail kuno. Jadi, inikah bentuk revolusi e-mail yang digagas Facebook? Perubahan tersebut akan mulai berlaku dalam beberapa bulan mendatang hanya untuk pihak-pihak yang menerima undangan. Setelah itu barulah giliran pengguna di seluruh dunia.

Rabu, 24 November 2010


SINGAPURA, KOMPAS.com — Akses internet di pesawat mungkin bukan barang baru. Namun, saat layanan semacam itu bakal bisa digunakan di pesawat Singapore Airlines, mungkin ini kabar mengejutkan. Apalagi jalur penerbangan maskapai tersebut melewati beberapa kota di Indonesia.

Maskapai tersebut telah menandatangani kontrak dengan OnAir NV untuk melakukan pemasangan jaringan wi-fi di dalam kabin pesawat sehingga penumpang dapat mengakses internet selama dalam perjalanan. Selain itu, juga dipasang BTS khusus agar penumpang juga dapat melakukan panggilan telepon dengan ponselnya. .
"Ini bukan gerakan yang bertujuan untuk meningkatkan pendapatan. Pelanggan sangat mengharapkan layanan ini karena dunia saat ini saling berhubungan," jelas Nick Ionides, juru bicara Singapore Airlines, seperti dikutip Kontan, Rabu (6/10/2010). Dengan adanya layanan ini, pelanggan dapat menggunakan laptop, ponsel, atau smartphone seperti iPhone milik Apple dan BlackBerry selama penerbangan.
Layanan internet dan ponsel di pesawat saat ini memang dilarang sesuai regulasi karena dapat mengganggu sinyal frekuensi penerbangan. Namun, dengan kemajuan teknologi, masalah interferensi dapat diatasi dan dapat digunakan di beberapa jenis pesawat. Untuk Singapore Airlines, layanan tersebut baru akan disediakan mulai 2011 mendatang di pesawat jenis Airbus A340-500s dan A380s serta Boeing 777-300 ER.

Adanya gebrakan ini menjadikan Singapore Airline sebagai maskapai penerbangan utama pertama di Asia yang menawarkan konektivitas internet di udara. Sebelumnya, Emirates di Dubai pada Juli lalu juga berencana menawarkan layanan serupa pada  2012.

Nama  : MOCHAMAD ZACKY MERDI
NPM  : 19110510
Kelas  : 1KA31
Dosen  : Asri Wulan
Mata Kuliah : Ilmu Sosial Dasar
x

WASHINGTON, KOMPAS.com — Mobil tanpa sopir sebentar lagi sepertinya bakal terwujud. Raksasa internet, Google Inc, telah melakukan uji coba mobil tanpa sopir yang bisa berhenti dan melaju sendiri.

Mobil ini bertujuan untuk mencegah kecelakaan. Selain itu, "Mobil ini juga akan menghemat waktu dan mengurangi emisi gas karbon," kata Kepala Proyek Google Sebastian Thrun.

Dalam uji coba tersebut, mobil tak berawak buatan Google ini telah melaju sepanjang 140.000 mil (sekitar 224.000 km) di California. Mobil ini menderu tanpa sama sekali intervensi manusia dari California Utara hingga California Selatan.

Thrun mengungkapkan, mobil tersebut mengatur kecepatannya, mengetahui arah lalu lintas, dan mempunyai peta jalan. Mobil "hantu" ini memakai video kamera, sensor radar, dan laser untuk mengetahui mobil lainnya.

Para teknisi Google mengklaim, mobil buatannya lebih aman ketimbang yang konvensional. Pasalnya, reaksinya lebih cepat ketimbang yang disetir oleh manusia.

Rencana Google membuat mobil tak berawak ini sudah tercium sejak 29 September lalu. Dalam perhelatan TechCrunch, CEO Google Eric Schmidt kala itu mengatakan, mobil seharusnya bisa melaju sendiri tanpa ada yang menyetirnya.

Nama  : MOCHAMAD ZACKY MERDI
NPM  : 19110510
Kelas  : 1KA31
Dosen  : Asri Wulan
Mata Kuliah : Ilmu Sosial Dasar
 
JAKARTA, KOMPAS.COM - Gagasan di dunia IT selalu muncul dari pencermatan terhadap cara hidup manusia. Bagaimana aktivitas manusia itu menjadi lebih mudah dan gampang. Menulis misalnya, yang digantikan oleh mengetik, lalu muncul PC untuk texting. Lalu, apakah semua orang kemudian harus menggantikan kebiasaannya dari menulis dengan pena menjadi mengetik dengan komputer?
Ternyata tidak. Sebuah riset yang digelar oleh Livescribe, sebuah perusahaan penyedia produk inovatif dari Oakland, Kalifornia, Amerika Serikat, menunjukkan bahwa konsumen sample yang menyatakan setuju untuk meninggalkan menulis dengan pena ke komputer sebesar 72 persen. Sementara yang 28 persen menyatakan tidak.
Akibatnya konsumen jumlah terakhir ini terus-menerus amat tergantung dengan kertas, pena, dan tinta. Mereka seolah menjadi bagian yang tersingkirkan dari kemajuan teknologi. Nyatanya tidak. Lewat pencermatan terhadap kebutuhan konsumen ini yang lalu dikorelasikan dengan teknologi informasi yang efektif dan efisien, meluncurlah gagasan membuat produk pena yang menolong semua aktivitas penyuka pena tradisional itu. Seperti, mengkopi dan menyimpan data tulisan dan gambarnya dengan tampilan asli ke dalam bentuk media digital. Teks hasil corat-coret itu lalu bisa dikonversikan ke teks komputer umumnya macam Words. Sedangkan sketsa atau corat-coret tampilan asli dikemas ke format PDF.
Pena itu juga bisa bertugas merekam pembicaraan, yang biasanya susah untuk dicatat oleh tangan. Pena cukup menuliskan poin (seperti angka) untuk penanda. Begitulah ponsel pintar (smartpen) itu diluncurkan secara resmi di Jakarta oleh distributornya, eStore yang selama ini kita kenal sebagai distributor resmi produk-produk Apple.
Pena elektronik yang oleh Mike Lim, perwakilan dari Livescribe, disebut-sebut lebih pintar ketimbang MontBlanc. "Misi Livescribe adalah untuk meningkatkan pengambilan data, akses dan berbagi informasi baik lisan maupun tulisan sehingga meningkatkan komunikasi, kolaborasi, produktivitas, dan pembelajaran," ujar Jim Marggraff, CEO dan founder Livescribe.
Menjajal smartpen dengan brand Echo ini seperti berada pada dua dunia, dunia masa lalu dan dunia maya. Dunia maya, sebab semua file ketika telah terpindahkan ke komputer bisa segera dibagikan, entah melalui email, atau bahkan dikirimkan ke Facebook, Twitter, dan blog atau social network lain dalam bentuk image atau audio. 
Mike benar. Pena ini adalah komputer supermini. Di dalamnya terdapat prosesor ARM 9 dan sebuah layar OLED 96 x 18 pixel. Sebuah ruang penyimpanan memori berukuran 4 GB atau 8GB (ada dua pilihan). Speaker dan mikrofon layaknya alat perekam. Port mikroUSB untuk kebutuhan koneksi isi ulang baterai maupun pemindahan data. Lantas seberapa besar pena digital satu ini?
Panjang cuma 15,8 cm dan berat 36 gram dengan separuh bagian ujung terlapisi oleh karet agar nyaman digunakan. Pena tentu saja tetaplah pena tinta umumnya. Sementara landasan yang digunakan bak kertas biasa saja, hanya memang memiliki spesifikasi khusus. Notes bernama dot paper starter notebook ini dilengkapi dengan kertas layaknya buku agenda, ikon-ikon menu, juga kalkulator, serta menu utama seperti cek baterai, cek memori.
Perangkat ini didukung oleh baterai jenis lithium ion (rechargeable) dan mampu bertahan untuk pemakaian tinggi sampai lima jam. Sebuah port audio 3,5 mm memungkinkan untuk mengalirkan audio ke earphone.
Sebuah demo yang diperagakan oleh Mike menunjukkan bagaimana fungsinya pun bertambah menjadi semacam perangkat penulisan not lagu. Nada diatonik pun keluar dari speaker ketika pena menekan kotak-kotak yang telah dibuat di notebook.
Mike juga mendemokan, bahwa pena ini berkonvergensi dengan iPhone, bahkan kelak menyusul iPad. File-file yang terdapat di pena dalam bentuk apapun kemudian dikirim ke aplikasi bernama Pencast. Di sinilah pengguna bisa membuka, menyebarkan, atau melakukan apapun terhadap data buatannya.
Produk yang telah dijual di eStore ini ditawarkan dalam dua pilihan berdasarkan kemampuan simpan memorinya. Pena 4 GB seharga Rp 1.750.000,- dan pena 8 GB sebesar Rp 2.500.000,- Paket komplet terdiri dari pena, earphone, starter notebook, kabel microUSB, dua tinta pena, dan dua pen caps. Ada beberapa peralatan optional yang dijual, salah satunya Journal Line seharga Rp 350.000,-. 
Siapa sasaran pembelinya?
Mike menyebut arsitek, wartawan, pembuat sketsa, atau siapapun yang masih gemar corat-coret di kertas dengan pena. Anda mungkin.

Sumber : kompas

Nama  : MOCHAMAD ZACKY MERDI
NPM  : 19110510
Kelas  : 1KA31
Dosen  : Asri Wulan
Mata Kuliah : Ilmu Sosial Dasar
 
KOMPAS.com - Di era digital saat ini, media telah mentransformasi kontennya dalam format digital sesuai perangkat yang digunakan untuk mengaksesnya. Ada media dalam bentuk situs web untuk diakses lewat komputer. Ada versi e-paper untuk browser desktop dan perangkat tablet dan aplikasi khusus untuk smartphone. Untuk ponsel ada versi mobile web.

Ada juga format baru media dalam bentuk MMS yang disebut mobile newspaper. MMS yang selama ini dipakai untuk mengirim foto dan animasi, dimanfaatkan untuk menyajikan rangkaian berita. Pemanfaatan MMS untuk menyebarkan konten berita fleksibel dibanding format lainnya karena MMS lintasplatform, bisa menjangkau hampir sebagian besar ponsel, dan tidak tergantung browser.

Di Indonesia, mobile newspaper memang masih baru diperkenalkan. Salah satunya layanan mobile newspaper di Telkomsel. Konon, platform aplikasi yang digunakan untuk mengemas layanan ini buatan Huawei, vendor telekomunikasi China yang juga memproduksi handset dan perangkat telekomunikasi. Sementara kontennya bekerja sama dengan sejumlah perusahaan media massa di Tanah Air.

Seperti apa mobile newspaper? Informasi layanan mobile newspaper di Telkomsel bisa diperoleh dengan mengetik *939# dari ponsel. Dari menu ini pula, pelanggan bisa memantau konten apa saja yang tersedia, sedang langganan konten apa saja, berlangganan dan berhenti langganan, serta melihat promo yang sedang berlangsung.

Ada banyak pilihan di sana. Saat ini sudah ada 13 konten media yang tersedia. Masing-masing mobile newspaper untuk Kompas, Genie, Bola, Seputar Indonesia, Nova, Warta Kota, Okesport, Automotif, Trust, Qalbu, Kompas Karier, Kawanku, dan Hai. Masing-masing mengenakan tarif Rp 2000/7 hari untuk Kartu Halo dan Rp 2200/7 hari untuk Kartu As dan Simpati.

Begitu memilih langganan, tak lama dikirim MMS konten terbaru media yang dipilih. Kali ini kami mencoba berlangganan Kompas, Nova, Warta Kota, dan Bola sekaligus. Begitu terdaftar, langsung ada 4 MMS yang diterima dari nomor 2003. Selanjutnya, kiriman mobile newspaper dalam bentuk MMS datang rutin sehari sekali. Mobile newspaper Kompas dan Warta Kota setiap jam 06.00 pagi, Bola jam 07.00, dan Nova datang setiap jam 10.00 pagi.

Semudah langganan koran, setiap edisi langsung dikirim rutin ke ponsel. Kalau koran dilempar ke halaman, ini dikirim ke genggaman tangan. Dua hari sebelum langganan berakhir ada kiriman SMS informasi bahwa langganan akan berakhir dan harus unsubscribe jika tidak ingin meneruskan atau akan otomatis diperpanjang untuk seminggu ke depan. Untuk menghentikan langganan, kembali tekan *939# dan ikuti perintah yang diminta.

Kalau dilihat dari formatnya, mobile newspaper pada dasarnya berupa gabungan file gambar berformat .jpg dan file teks berformat .txt. Setiap edisi memuat rata-rata 10 berita sesui segmen yang disasar. Untuk Kompas misalnya, berita politik paling sering mendominasi headline dan masing-masing satu berita rubrik lainnya seperti internasional, bisnis keuangan, kesehatan, hiburan, hingga kuliner. Nova menyajikan gosip dan trik untuk wanita dan keluarga sampai resep masakan.

Mobile newspaper lebih sebagai rangkuman berita aktual. Namun, dilihat dari isi kontennya tidak sepenuhnya rangkuman isi berita media yang sama. Seperti mobile newspaper Kompas bukan berarti semuanya berisi rangkuman Kompas edisi cetak hari yang sama, begitu pula dengan Warta Kota. Apalagi Bola dan Nova yang sebenarnya tabloid terbit berkala kini hadir setiap hari.

Berbeda dengan edisi cetak, isi berita lebih ringkas dan pilihan redaksi. Kelihatannya satu edisi dibatasi tak lebih dari 15 halaman dengan ukuran file sekitar 45 kb, proses download dengan jaringan 3G tidak mengalami hambatan berarti. Setiap file bisa disimpan selamanya sebagai pesan MMS. Setiap artikel rata-rata disajikan dalam dua paragraf. Satu halaman rata-rata butuh sekitar 50 scroll untuk melihat isi berita secara keseluruhan, cukup panjang memang.

Andai format isi berita yang disajikan bisa lebih kompak langsung memenuhi unsur 5W dan 1 H dan tidak terlalu banyak scroll, mungkin akan lebih nyaman diakses dari ponsel apapun. Tapi, dari model langganan yang langsung dikirim ke pelanggan, mobile newspaper punya kans menjadi salah satu layanan unggulan di jaringan seluler. Apalagi, format MMS bisa dipakai di hampir semua jenis handset.

Sumber : Kompas

Nama  : MOCHAMAD ZACKY MERDI
NPM  : 19110510
Kelas  : 1KA31
Dosen  : Asri Wulan
Mata Kuliah : Ilmu Sosial Dasar
JAKARTA, KOMPAS.com - Selama ini bentuk mouse terbilang standar dengan bentuk oval, namun Genius menawarkan mouse berbentuk pulpen. Dengan bentunya yang ramping, pengguna dapat mengoperasikan kursor komputer layaknya menulis sehingga tidak harus selalu mencengkeram mouse di atas meja.

Perangkat ini tidak hanya berfungsi sebagai mouse saja, namun juga bisa menjadi presenter. Saat presentasi, penggunanya langsung bisa memanfaatkannya untuk mengatur tampilan Power Point di layar. Praktis bukan.

Apalagi, Pen Mouse menggunakan koneksi nirkabel melalui gelombang 2,4 GHz yang bisa terhubung hingga jarak 10 meter. Tinggal colok dongle ke konektor USB, dan aktifkan Pen Mouse. Lebih lanjut lagi, unit ini memiliki fungsi hemat daya dan sensor deteksi otomatis, sehingga pada saat tidak digunakan, Pen Mouse akan langsung merubah mode menjadi sleep mode. Dan untuk kembali menggunakannya, cukup tekan tombol apa saja untuk aktivasi.
Pen Mouse juga memiliki teknologi optical sensor 1200DPI sehingga memberikan kenyamanan ketika menggunakannya karena dapat digunakan pada lingkungan kerja manapun, tidak harus di tempat datar. Desain multi fungsi juga ditambahkan pada unit ini, Anda dapat menggunakannya pada resolusi 400/800 dan 1200 DPI untuk mencapai kemampuan ergonomic maksimal.

Untuk kenyamanan kebutuhan browsing web atau dokumen, Pen Mouse mengembangkan fungsi auto-induction, Yang akan mengenali secara otomatis X axis dan Y axis dan melacak untuk bertindak, sehingga mengurangi rasa pegal pada jari ketika penggunaan dalam waktu lama atau tekanan yang terlalu sering.

Pen Mouse berfiturkan interface yang cocok digunakan untuk pengguna kidal ataupun normal, pengguna dapat menyesuaikan untuk setiap posisi pemegangan sehingga mendapatkan posisi yang nyaman untuk mereka melalui built-in UI dan ini dapat membantu untuk mengurangi ketegangan pada pergelangan tangan.
Harga satu unit Pen Mouse 44,9 dollar AS atau sekitar Rp 400 ribuan. Perangkat ini hanya bekerja pada komputer dengan sistem operasi Windows XP/Windows Vista/Windows 7.

Sumber : kompas

Nama    : MOCHAMAD ZACKY MERDI
NPM    : 19110510
Kelas    : 1KA31
Dosen   : Asri Wulan
Mata Kuliah  : Ilmu Sosial Dasar

Rabu, 17 November 2010

Berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), curah hujan yang cukup tinggi akan melanda Indonesia hingga bulan Juni 2010.  Bencana banjir pun tak terelakkan. Dalam sepekan belakangan ini, beberapa wilayah di Indonesia tergenang banjir.
Dari laporan Posko PMI Pusat, tercatat dalam sepekan lalu ada 13 kecamatan di Aceh yang dilanda banjir. Kemudian menyusul dua kecamatan di Pasuruan Jawa Timur juga tergenang banjir dengan ketinggian 1-2 meter.
Catatan laporan dari Posko PMI Provinsi Aceh menyatakan, sebanyak 13 kecamatan di Kabupaten Nagan Raya terendam banjir dengan ketinggian hingga 2 meter. Pada 11 Mei 2010, banjir terjadi di Kecamatan Kuda Pasir dan Tadu Raya. Jangkauan air mencapai 2 meter, situasi dikhawatirkan akan memburuk bila terjadi hujan terus-menerus.
“PMI Kabupaten Nagan Raya telah mengerahkan 30 anggota Satgana (red-Satuan Penanganan Bencana) dan 20 anggota KSR (red-Korps Sukarela) untuk membantu evakuasi warga ke lokasi aman, melakukan pendataan awal di lokasi bencana banjir, dan membantu distribusi bantuan,” ucap Staf Penanggulangan Bencana PMI Provinsi Aceh, Marhamah (12/5).
Karena wilayah masih tergenang banjir, distribusi bantuan dilakukan dengan menggunakan perahu. Sebanyak 270 KK atau sekitar 1.300 warga korban banjir, telah menerima bantuan dari PMI berupa beras dan mie instant. Selain itu, PMI juga telah membantu memberikan layanan kesehatan gratis untuk para warga korban banjir di Kabupaten Nagan Raya, Aceh. Berdasarkan laporan sementara dari Posko PMI Provinsi Aceh, para warga korban banjir mulai menderita diare karena sarana air bersih yang sulit diperoleh.
Sementara itu, banjir juga melanda Kota Pasuruan, Jawa Timur pada Rabu lalu (12/5). Genangan air setinggi 50 cm hingga 1 meter melanda dua kelurahan, yaitu Kelurahan Karang Tegug dan Krapyak, Kecamatan Gagingrejo, Kota Pasuruan. Banjir juga merendam jalan raya Tambakrejo, Kraton hingga membuat jalur Pasuruan-Probolinggo sempat macet total selama hampir lima jam. Posko PMI Kota Pasuruan menyampaikan bahwa para anggota Satgana PMI membantu mengevakuasi warga.
“Dari laporan sementara Posko PMI Kota Pasuruan, ada 361 warga korban banjir yang dibantu mengungsi. PMI melakukan tindakan Pertolongan Pertama kepada 18 warga yang mengalami luka ringan, membantu distribusi bantuan, dan mendirikan dapur umum,” tutur Staf Divisi Penanggulangan Bencana Markas Pusat PMI Tia Kurniawan di Posko PMI Pusat (15/5).
Beralih ke Jawa Tengah, bencana longsor melanda  Kabupaten Brebes pada Jumat dini hari (14/5).
“Longsor terjadi Jumat dini hari kemarin (14/5) di Desa Dukuh Waru, Kecamatan Bantar Kawung. Ada 30 orang anggota KSR yang dikerahkan ke lokasi longsor. Dari lokasi, dilaporkan ada 3 rumah warga yang hancur terkena longsor,” ucap Staf Penanggulangan Bencana PMI Kabupaten Brebes Masruri (18/5).*


NAMA : MOCHAMAD ZACKY MERDI
KELAS : 1KA31
NPM : 19110510
DOSEN : Asri Wulan
MATA KULIAH : Ilmu Sosial Dasar